Musik, Puasa, dan Kelembutan Jiwa

Red: Agung Sasongko

Kamis 24 May 2018 14:15 WIB

Tasawuf (ilustrasi) Foto: Blogspot.com Tasawuf (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof H Nasaruddin Umar

Banyak ayat dan hadis mengisyaratkan pentingnya seni dan musik untuk mencapai ketenangan jiwa. Nilai-nilai keindahan dan kebaikan mendapatkan tempat yang amat positif dalam Alquran, seperti diisyaratkan QS al-A'raaf [7]:32:

Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?".

Para nabi juga diutus Allah SWT, semuanya memiliki suara yang bagus, sebagaimana hadis Rasulullah SAW riwayat at-Tirmidzi dan Qatadah sebagai berikut: Allah tidak mengutus seorang nabi, melainkan suaranya bagus.

Rasulullah dalam beberapa riwayat memberikan dukungan terhadap musik dan seni suara, antara lain cerita `Aisyah tentang dua budak perempuan pada Idul Adha menampilkan kebolehannya bermain musik dengan menabuh rebana, sementara Rasulullah bersama Aisyah menikmatinya.

Abu Bakar tiba-tiba datang dan membentak kedua pemusik itu, lalu Rasulullah menegur Abu Bakar dan berkata, Biarkanlah mereka berdua hai Abu Bakar, karena hari-hari ini adalah hari raya.

Riwayat lainnya `Aisyah pernah mengatakan, Saya melihat Rasulullah menutupiku dengan serbannya sementara aku menyaksikan orang-orang Habsyi bermain di masjid.

photo
Infografis Puasa Ramadhan

Lalu, Umar datang dan mencegah mereka bermain di masjid, kemudian Rasulullah, 'Biarkan mereka, kami jamin keamanan wahai Bani Arfidah. Kedua hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, yang tidak bisa diragukan kesahihannya.

Dalam lintasan sejarah dunia Islam, seni musik merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban Islam yang terus dikembangkan. Sudah saatnya juga seni musik dan berbagai bentuk seni lainnya dijadikan media dakwah untuk mengajak orang berhati lembut, berpikiran lurus, berperilaku santun, bertutur kata halus, dan menampilkan jati diri dan inner beauty setiap orang.

Orang yang rajin mengikuti sama' diharapkan memiliki kepekaan telinga batin yang dapat menerima suara-suara batin untuk pencerahan umat manusia. Kita teringat Walisongo yang juga akrab dengan seni ketika memperkenalkan Islam di lingkungan kerajaan dan masyarakat.

Sama' yang pertama kali didengar manusia ialah suara Tuhan. Ketika onggokan atom-atom yang membentuk diri manusia di dalam rahim ibunya, sebelum ruh suci ditiupkan ke dalam dirinya, Tuhan terlebih dahulu bertanya kepadanya dalam suatu pertanyaan sekaligus perjanjian primordial azali (mitsaq) yaitu:

Bukankah Aku ini Tuhanmu? Lalu, sang janin terpesona mendengarkan suara indah nan merdu itu sambil menjawab, Sudah pasti (Engkau Tuhanku), kami jadi saksi (alastu bi rabbi kum qalu bala syahidna). (QS al-A'raaf [7]:172).

Ketika orang dalam suasana tenang, dalam keadaan bersih, sebersih janin yang tersimpan dalam tempat paling aman (qararin makin), pada saat itu suara-suara indah dan lembut (sama') yang pertama kali pernah dia dengarkan sekonyong-konyong muncul kembali.

Suara-suara lembut itulah yang dicari para salikin. Sama'itu terkadang disuarakan gemercik air sungai, deru gelom- bang laut, gesekan dedaunan, dan suara-suara alam lainnya.

Suara-suara itu juga terkadang dilagukan bunyi jangkrik dan kicauan burung malam. Suara indah nan lembut itu terkadang muncul di balik gesekan biola, tiupan seruling senja, petikan halus kecapi, dan tabuhan lembut rebana, serta lantunan tilawah Alquran dan shalawat Nabi SAW.

Suara-suara lembut itu dipastikan akan diperdengarkan kembali kepada para hamba pilihan-Nya ketika Dia memanggil kekasih-Nya dengan penuh kemesraan: Wahai kekasihku pemilik jiwa yang tenang, kembalilah kepangkuan Tuhanmu dengan hati tenang dan tenteram, di dalam dekapan keridhaan-Ku, bergabunglah dengan para kekasih-Ku yang lain, masuklah ke dalam ketenangan surga- Ku.

(QS al-Fajr [89] :27-30).

Terpopuler