Pentingnya Ilmu dalam Ibadah

Red: Agung Sasongko

Senin 21 May 2018 17:28 WIB

Ramadhan Foto: IST Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Dr TGH Muhammad Zainul Majdi, Gubernur NTB

Ada ungkapan ulama besar yang secara garis besar menyatakan, siapa saja yang melakukan amal ibadah tanpa ilmu, tanpa pengetahuan, tanpa kemenger tian, amal-amalnya tidak akan diterima Allah SWT. Itu sebabnya kalau kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW, pastikan kita, keluarga kita, anak-anak kita, setiap saat harus punya semangat menuntut ilmu, pendidian umat harus tinggi, penguasaan terhadap ilmu dan teknologi harus tinggi, karena bahkan ibadah saja itu tidak akan akan diterima kecuali itu berlandaskan ilmu. Di dunia, tidak mungkin seseorang akan mampu berkontribusi dengan baik kalau dia tidak berilmu. Kalau dia tidak punya penge ta huan, agama juga seperti itu.

Karena itu, banyak ulama mengingatkan kepada kita, kalau mau berjuang untuk agama itu tidak cukup semangat saja. Oh, semangat nya luar biasa, tapi ilmunya tidak ada. Saking semangatnya, misalnya, dia shalat Subuh empat rakaat, padahal tidak ada ilmunya.

Dalam Islam diajarkan segala sesuatu yang sudah diajarkan Nabi Muhammad SAW, sudah ada bilangannya dan bilangannya itu sifatnya pembatasan, maka tidak boleh ada yang menambah, kecuali kalau bilangannya sebagai contoh saja.

Misalnya, Rasulullah SAW mencontohkan kalau bertasbih setelah shalat itu 33 kali bukan berarti kita tidak boleh menambah bertasbih sambil jalan sampai 50 kali, 100 kali, atau 200 kali, tidak apa-apa karena kata ulama, di situ angka bukan untuk memba tasi, tapi bagian dari contoh yang disampaikan Rasulullah sifatnya bukan pembatasan. Nah, mengetahui ini semua perlu belajar, itu sebabnya Rasul menyampaikan menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap oramg beriman, laki-laki maupun perempuan.

Menghadapi bulan suci Ramadhan yang mulia ini, kita sudah tidak punya jalan untuk menghindar dari memahami tentang hukum-hukum dan menjalani puasa dengan baik. Ajaran Islam itu ada yang harus diketahui siapa pun seketika. Ilmu tentang shalat lima waktu, begitu akil baligh tidak bisa kita katakan: "Ah, saya enggak mau belajar shalat nanti saja setahun lagi baru belajar shalat." Karena shalat itu sifatnya untuk semua yang sudah berakil baligh dan berakal.

Ada juga dalam Islam, kewajiban yang keharusan mempelajari detailnya hanya berlaku bagi mereka yang hendak menjalani nya. Contoh ibadah haji, kita semua tanpa kecuali wajib ketahui dan mengimani haji itu rukun Islam. Tapi, manasiknya bagaimana, apakah kita semua tanpa kecuali harus mempelajari rukun dan sunah haji secara mendalam? Menurut ulama tidak demikian.

Yang wajib belajar detail hukum haji adalah orang yang akan melaksanakan ibadah haji. Sekarang memasuki Ramadhan, tidak ada kata lain yang kita lakukan selain belajar memahami agar bulan suci ini mendatang kan keberkahan. Tidak hanya sukacita datangnya, tapi memastikan setiap saat menghadirkan berlipat kebaikan.

Ketika akan masuk Ramadhan, kita diminta menghadirkan niat yang baik, kira-kira rencana kita untuk Ramadhan itu apa, sekarang kita simpan niat dalam hati kita, semisal pasang niat khatam Alquran saat Ramadhan. Kata para ulama, songsong Ramadhan dengan menghadirkan dan menyiapkan niat melaksanakan kebaikan.

Kedua, dulu Rasulullah ketika masuk Ramadhan beliau mentradisikan saling meminta maaf antara para sababat. Jadi, kalau kita biasanya mengirim permohonan maaf menjelang Idul Fitri, kalau tradisi Rasul sebelum masuk Ramadhan beliau juga meminta maaf lahir dan batin.

Terpopuler