Presiden Jefferson dan Kisah Iftar Kenegaraan Pertama di AS

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Agung Sasongko

Kamis 17 May 2018 18:15 WIB

Thomas Jefferson Foto: History.com Thomas Jefferson

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pada 1805, bulan Ramadhan jatuh pada bulan Desember. Saat itu, adalah kali pertama tokoh penting Amerika Serikat menjamu tamu Muslim untuk buka puasa bersama. Ia adalah Thomas Jefferson, Presiden AS ketiga.

Saat itu, Sidi Soliman Mellimelli yang merupakan seorang negarawan sedang dalam misi diplomatik selama enam bulan di AS. Pria asal Tunisia ini tinggal di Washington DC, jauh dari teman, keluarga, kerabat hingga komunitas Muslim lain.

Menjalankan ibadah puasa di lingkungan asing menjadi cukup menantang baginya. Dalam surat kabar setempat, ia disebut orang bar-bar, pecandu seks hingga mengaitkan agama yang dianutnya, Islam dengan praktik cabul.

(Baca: Multidimensi Puasa)

Namun tidak Thomas Jefferson. Meski menerima banyak kritik dari rekan federalnya, Jefferson menyambut Mellimelli dengan dermawan. Ia mengajaknya makan malam dan menyediakan hidangan berbuka puasa yang mewah.

Karena hal ini, Presiden ketiga AS ini menjadi presiden AS pertama yang menjadi tuan rumah iftar kenegaraan. Momen bersejarah ini terjadi pada 7 Desember. Sekretaris Jefferson secara khusus mengunjungi Mellimelli untuk mengundangnya makan malam dengan Presiden.

photo
Infografis Ramadhan

Senator William Plumer bercerita, Mellimelli sedang shalat saat sekretaris Jefferson datang. Setelah menyampaikan maksudnya, ia mendapat balasan tak terduga. "Mellimelli mengatakan tidak boleh makan sampai matahari terbenam," kata Plumer seperti dilansir Atlas Obscura, Kamis (17/5).

Mudah bagi seorang Presiden, orang pertama di negara adidaya tersebut untuk membatalkan undangan yang ditolak. Namun Jefferson memilih mengundur waktunya hingga mendekati waktu matahari terbenam.

(Lihat Video: Keistimewaan Ramadhan)

John Quincy Adams yang hadir dalam acara makan itu menyaksikan perlakuan ramah Jefferson. Ia mengatakan suasana saat itu 'terasa seperti Ramadhan', saat orang-orang Turki berpuasa ketika matahari di atas horizon.

Malam itu, Mellimelli sedikit telat. "Mungkin ia memutuskan untuk berbuka dan shalat di rumah sebelum makan malam," katanya. Namun Mellimelli tetap duduk bersama dalam acara, makan dan berbincang-bincang melalui penerjemah.

Mungkin iftar itu tanpa kurma atau makanan tradisional khas Tunisia yang biasa ia cicipi di kampung halaman. Namun tangan terbuka dari orang nomor satu di Amerika membuatnya merasa seperti di rumah dan tidak sendirian.

Jefferson mengakui dan menghargai keyakinan yang dianut Mellimelli. Menurut Atlas Obscura, ia juga melakukan apa pun untuk mengakomodasi Mellimelli dalam menjalankan kepercayaannya.

Terpopuler