Multidimensi Puasa

Red: Agung Sasongko

Kamis 17 May 2018 14:07 WIB

Ramadhan Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof H Nasaruddin Umar

Puasa dapat didekati di dalam berbagai perspektif. Bukan saja perspektif agama khususnya Islam, melainkan juga dalam dunia sains. Dalam dunia kedokteran seseorang akan menjalani general check-up disarankan berpuasa, yakni tidak makan selama kurang lebih 10 jam sebelumnya.

Langkah ini untuk membedakan gula darah sebelum dan sesudah makan. Belum lagi anjuran dokter meminta orang-orang tertentu berpuasa atau membatasi asupan makanan dan minuman dalam upaya pemulihan kesehatan.

Dalam dunia biologi ternyata makhluk hidup yang berpuasa bukan hanya manusia, melainkan juga dunia fauna dan flora. Sekelompok peneliti dari Kebun Binatang London menemukan ternyata sejumlah binatang di dalamnya juga berpuasa, seperti ayam, unta, biawak, ular, dan lainnya.Bahkan, ular bisa berpuasa hingga empat bulan setelah menelan mangsanya yang besar.

Dengan berpuasa seekor ular bisa menemukan kulit (sisik) baru lalu membuang sisik lamanya. Ayam juga berpuasa selama mengerami telurnya sehingga tercipta suhu badan yang bisa menetaskan telurnya. Ayam yang selalu meninggalkan telurnya sehingga tidak tercipta suhu yang ideal, telurnya akan membusuk, tidak menghasilkan anak ayam.

photo
Infografis Ramadhan

Tumbuh-tumbuhan dalam musim tertentu juga harus berpuasa dengan cara melepaskan daunnya saat musim salju tiba. Jika daunnya tetap lebat, tentu dahan-dahannya akan patah karena tidak sanggup menahan beban salju.

Di negara-negara yang mengenal empat musim, kita tidak bisa menjumpai banyak jenis tumbuhan seperti di negeri kita karena yang bisa lolos dengan seleksi alam sangat terbatas. Demikian pula jenis tumbuh-tumbuhan dan ikan. Negeri kita yang beriklim tropis kita bisa menemukan berbagai jenis fauna dan flora.

Perintah Tuhan menjalankan puasa tentu bukan saja sebagai sebuah ritus keamanan, yang mempunyai efek pengampunan dosa masa lalu, tetapi sudah barang tentu mempunyai berbagai efek positif lain, misalnya efek penyehatan badan sebagaimana seruan Nabi: shumu tashihhu (berpuasalah supaya kalian sehat). Mungkin itulah sebabnya hampir semua agama besar dunia menyerukan umatnya berpuasa secara periodik. Hanya, cara dan waktu berpuasanya berbeda-beda satu sama lain.

Tidak mungkin Tuhan memerintahkan atau melarang sesuatu tanpa hikmah. Hikmah itu tentu bukan untuk diri-Nya sebab Tuhan tidak membutuhkan sesuatu apa pun dari makhluk-Nya. Jika semua makhluknya mogok menyembah atau semuanya menjadi iblis, tidak akan pernah mengurangi ketuhanan-Nya.

Sebaliknya, jika seluruh hamba-Nya mengabdi sepenuhnya kepada-Nya, seperti malaikat, Tuhan pun tidak bertambah ketuhanan-Nya. Keseluruhan perintah dan larangannya disyariatkan untuk kemaslahatan manusia dan sebagai bukti kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya, terutama kepada manusia. Jangan pernah ada kesan, mengapa Tuhan memerintahkan yang sulit dan berat seperti puasa dan melarang yang enak-enak, seperti zina.

Allah SWT sebagai Tuhan Maha Esa dan Mahakuasa, tidak akan terpengaruh keadaan apa pun dan siapa pun karena semuanya tercipta atas kehendak-Nya.Hanya, kita sebagai hamba-Nya sering salah paham karena keterbatasan kita memahami keseluruhan hikmah dan rahasia di balik kehendak-Nya.

Akan tetapi, jika manusia mau merenung sejenak, meninggalkan belenggu keterikatan dunia, dan mau mendengarkan suara- suara hati nuraninya, manusia bisa menemukan kedamaian, ketenangan, dan kekuatan di dalam menjalani kehidupannya.

Sesungguhnya tidak pernah ada rutinitas dalam kehidupan ini, yang ada hanyalah perjalanan panjang untuk mudik ke kampung halaman.Pada saatnya manusia yang bersabar menempuh perjalanan itu, dengan segala tantangan dan suka dukanya, pada akhirnya akan sampai ke tempat tujuan, Inna lillah wa inna ilaihi raji'un(dari sana kita berawal dan akan kembali pasti akan kembali kepada-Nya).

(Baca Juga: Jaga Niat Puasa)

Terpopuler