Puasa Tajamkan Hati dan Intuisi

Red: Agung Sasongko

Senin 14 May 2018 17:12 WIB

Ramadhan Foto: Republika/ Tahta Aidilla Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puasa, menurut Ustaz Arifin Ilham, dapat menajamkan hati dan intuisi. Inilah puasa yang menghadirkan berkah. Puasa macam ini, menurut dia, hanya bisa didapatkan oleh mereka yang berpuasa dengan penuh iman dan takwa, disertai sikap takut kepada Allah. Dengan sikap ini, orang yang berniat puasa akan bertobat dan mengharapkan adanya perbaikan, perubahan, dan ampunan.

Saat berpuasa, kata Ustaz Arifin, terjadi revitalisasi roh (perohanian jasmani). ''Di saat kita berpuasa, yang merasakan lapar adalah jasmani kita. Sedangkan roh kita kenyang, karena itu rohnya akan hidup. Roh yang hidup dapat menjadikan kita selalu bersikap sabar, senantiasa bersyukur, bersikap zuhud dan waraq (berhati-hati dengan hukum Allah), bertawakal sebagai buah dari sikap ubudiyah kita kepada Allah,'' papar pimpinan Majelis Az Zikra itu.

Pada saat tidak berpuasa, tubuh akan kenyang sehingga badan menjadi malas. Menurut Ustaz Arifin, jika berpuasa hanya menahan lapar dan haus tetapi masih melaksanakan hal-hal yang dilarang, maka hanya akan beroleh lapar dan dahaga.

Ustaz Arifin menjelaskan ketajaman hati dan intuisi juga bisa didapatkan dari kegiatan berzikir. Berzikir membuat hati menjadi tenang. Semua kerak dalam hati pun akan rontok sehingga hati menjadi bersih.

Pengaruh hati bersih

Sifat buruk dapat dibersihkan dengan ikhtiar belajar, berkumpul dengan orang saleh, dan beribadah kepada Allah. Niscaya, dengan tiga hal itu Allah akan mengeluarkannya dari kegelapan sehinga hati, pikiran, dan jiwanya terbuka. Sehingga akan membuat dia menjadi cerdas dalam menyelesaikan urusan, menangkap hikmah (lutfu), enteng dengan urusan dunia (alhaul), lapang dada, membuat manusia nrimo (hauna), dan berbelas kasih dengan menolong (arafu).

Tertutupnya hati, terjadi akibat manusia sering melakukan maksiat. Hal itu membuat dekat dengan kebodohan, banyak dosa, senang dengan hal yang makruh dan mubahah (suka berleha-leha dan lalai). Jika orang itu bertobat dan beristighfar, maka hijab dalam hatinya akan terangkat.

Ustaz Arifin mengatakan mata hati yang jernih dapat menumbuhkan firasat yang jernih, pikiran tajam, intuisi dan ilham yang jelas. Hati yang bersih menjadi mudah meraih hidayah. Jika hati bersih, maka akan mudah menerima hidayah dari Allah, firasat akan menjadi tajam, doanya akan menjadi mustajab, hati akan tenang damai, dan pikiran akan menjadi jernih. Pada hati yang bersih akan tumbuh dan berkembang akhlak mulia. Jika hati bersih, maka kalau berbicara akan ada hikmah berupa kata-kata yang berkualitas.

Orang yang berpuasa akan mudah berpikir dan menandakan jika dia beriman. Orang yang beriman akan senantiasa berbaik sangka dengan takdir dan hikmah dan selalu tajam mata hatinya dan terlihat inner beauty-nya. Hati, pikiran, telinga, dan gerak langkahnya pun terjaga dari sikap buruk. Orang yang mendekatkan hati nuraninya akan selalu jujur. Hal ini erat kaitannya dengan emotional quotient (EQ). Manusia tidak hidup hanya dari intelligence quotient (IQ), tetapi juga dengan emotional quotient (EQ).

Guru besar psikologi Dr Zakiah Darajat menjelaskan seluruh kebutuhan yang sederhana pada manusia dikendalikan oleh emosi. Pengendalian emosi bergantung pada kecerdasan IQ. Jika kecerdasannya rendah belum tentu bisa mengendalikan emosinya.

IQ merupakan kemampuan menangkap segala sesuatu agar lebih mudah sedangkan EQ tergantung pada pengalaman hidup sejak kecil dan pendidikan agama. Ketajaman hati dan intuisi merupakan pemberian Allah karena Allah memberikan kemampuan kepada hambaNya. Intuisi tajam dapat diperoleh dan penggunaaanya harus dilatih.

Terpopuler