Penumpang Kereta Api Masih Ada yang Tertipu Tiket Palsu

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Bilal Ramadhan

Senin 26 Jun 2017 16:09 WIB

 Seorang warga memesan tiket kereta api H-8 lebaran secara online di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Ahad (19/3). Foto: Republika/Raisan Al Farisi Seorang warga memesan tiket kereta api H-8 lebaran secara online di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Ahad (19/3).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Penumpang kereta api, masih ada yang tertipu menjadi korban calo penjual tiket palsu. Menurut Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, Joni Martinus,  PT KAI berhasil mengamankan tindakan calo yang terdeteksi oleh petugas kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jumat (23/6).

Joni mengatakan, petugas tersebut berhasil mengagalkan upaya pemalsuan tiket boarding pass yang menimpa sembilan calon penumpang KA Kutojaya Utara tujuan Pasar Senen–Kutoarjo dan tiga calon penumpang KA Kutojaya Utara kereta premium tambahan.

Calon penumpang tersebut, kata Joni, menjadi korban dari tindakan tidak bertanggung jawab para penipu karena tiket tersebut diperoleh dengan menitipkan pembelian tiket pada temannya. "Tiket-tiket palsu itu tetap tidak akan terbaca dalam sistem barcode di pintu boarding pass," ujar Joni kepada wartawan, Senin (26/6).

Meskipun dibuat semirip mungkin, kata Joni, setiap tiket tetap mempunyai kode unik tersendiri yang akan terbaca oleh sistem di pintu boarding. Bahkan, kalau pun tiket palsu tersebut lolos dari pintu boarding, maka bisa dipastikan akan terdeteksi di dalam kereta api karena akan terjadi tempat duduk ganda.

"Jika hal ini terjadi, penumpang bertiket palsu pasti akan kami tindak tegas,” katanya.

Dengan sistem berlapis seperti itu, Joni meyakinkan bahwa praktek percaloan pun akan sulit berkembang dan bahkan tidak berkutik. Sekarang, praktik yang mungkin tumbuh subur saat ini adalah sistem perjokian.

“Kalau kita amati, sistem penjualan tiket kereta pada saat ini justru mematikan praktik calo. Nah, yang kemudian terjadi adalah praktek perjokian dimana ada beberapa orang yang menerima penitipan pembelian tiket dan meminta jasa atas tindakan tersebut," katanya.

Sistem perjokian, kata dia,  berbeda dengan percaloan. Karena, kalau calo akan membeli tiket kemudian menjual tiket itu dengan harga lebih mahal. Hal ini, menjadi penyebab susahnya masyarakat membeli tiket karena terkadang tiket-tiket tersebut sudah diborong calo.

Namun kalau joki, kata dia, hanya membantu proses pembelian dan meminta imbalan jasa atas bantuannya tersebut sementara data dalam tiket memang sama dengan data penumpang. "Ya, jelas pemilik tiket akan lolos di pintu boarding,” tegas Joni.

Namun, menurut Joni, sampai saat ini, kejadian serupa tidak terjadi di Daop 2 Bandung. Ia menghimbau, agar masyarakat benar-benar matang merencanakan perjalanan dengan kereta api. Jika hendak memesan, lebih baik bertanya terlebih dahulu kepada petugas atau meminta tolong kepada saudara yang paham masalah tiket online.

"Hindari membeli tiket dengan menggunakan joki karena rentan dengan penipuan dan jangan menerima tiket yang sudah berbentuk tiket boarding pass," katanya.

Sebaiknya, kata dia, masyarakat mencetak sendiri di check in counter. Karena, rentang waktu pencetakan bisa dilakukan 7 hari sebelum keberangkatan. Apabila merasa ragu dengan tiket yang didapatkan, segera bertanya pada petugas di stasiun terdekat.

Dikatakan Joni, minat masyarakat untuk menggunakan moda transportasi kereta api pada saat mudik Lebaran saat ini terus meningkat. Ini, menjadi bukti semakin membaiknya pelayan dari PT KAI.

Berdasarkan data keterisian penumpang keberangkatan Daop 2 sampai hari lebaran, Ahad (25/6), sudah terangkut sebanyak 526.342 penumpang atau lebih tinggi 8 persen dibandingkan masa yang sama pada 2016. Tingkat keterisian yang tinggi ini, menjadikan tiket kereta api benda yang banyak dicari masyarakat.

"Tentu hal ini dimanfaatkan juga oleh oknum yang ingin mengeruk keuntungan dari antusiasme masyarakat yang tinggi," katanya.

Terpopuler