Kebiasaan Warga Saudi pada Hari Pertama Lebaran

Red: Ratna Puspita

Ahad 25 Jun 2017 23:01 WIB

Jamaah masjid di Riyadh Arab Saudi tengah membaca Al Quran Foto: Faisal Al Nasser/Reuters Jamaah masjid di Riyadh Arab Saudi tengah membaca Al Quran

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Hampir semua umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri 1438 Hijriah pada Ahad (25/6). Meski Idul Fitri adalah acara keagamaan, umat Islam di seluruh dunia merayakan hari itu dengan kebiasaan dan tradisi yang berbeda. 

Muslim di wilayah mana pun akan menghadiri shalat Idul Fitri pada pagi hari di masjid atau lokasi khusus. Selanjutnya, dalam setiap budaya, ada cara dan kebiasaan untuk mengekspresikan kebahagiaan pada acara suci ini.

Warga Arab Saudi di Riyadh pun punya kebiasaan tertentu pada Hari Raya Idul Fitri. 

Warga Saudi di Riyadh, Sultan (25), mengatakan rangkaian Lebaran dimulai sejak sehari sebelumnya. Dia akan melakukan persiapan dengan pergi tukang cukur dan memastikan pakaiannya bersih. 

Sultan mengaku selalu menjahit gamis khusus untuk Idul Fitri. Ayahnya yang mewarisi kebiasaan ini. "Biasanya, saya tidak tidur malam sebelum lebaran. Saya hanya menyukai perasaan indah pada malam Idul Fitri," kata dia, dilansir dari Saudi Gazette, Ahad (25/6). 

Pada Hari Raya Idul Fitri, Sultan pergi bersama ayah dan saudara laki-lakinya ke masjid. Selanjutnya, mereka akan berjabat tangan dengan semua tetangga. Sultan percaya jabatan tangan akan menghilagkan perasaan negatif yang ada di antara mereka. 

"Ini adalah acara suci dan kami harus memulainya dengan hati yang bersih," kata dia. 

Sultan mengatakan dari masjid, mereka berangkat ke rumah kakeknya, lokasi berkumpul anggota keluarga besar. Pada acara keluarga itu, mereka juga saling bersalaman sembari mengucapkan selamat lebaran. 

"Kami biasanya juga memberikan anak-anak eidiyya, yaitu sejumlah uang yang diberikan anggota keluarga dewasa kepada anak-anak agar mereka gembira," ujar Sultan.

Selanjutnya, mereka akan pulang ke rumah untuk tidur siang. Pada malam hari, Sultan dan keluarganya pergi ke restoran atau tempat hiburan yang menyuguhkan berbagai aktivitas menyenangkan untuk dinikmati keluarga. 

Pada hari berikutnya, mereka akan berupaya mengunjungi kerabat yang tidak bisa datang untuk pertemuan keluarga dengan alasan tertentu. "Kami selalu berusaha memastikan untuk mengunjungi semua kerabat kami," kata dia. 

Sultan menceritakan hampir semua orang yang dia kenal di Riyadh tidak melewatkan acara berkumpul dengan keluarga pada Hari Raya Idul Fitri. Dia mengenal beberapa teman yang berasal dari kota lain tapi tinggal di Riyadh. Mereka semua pulang ke kampung halaman setiap Idul Fitri. "Tidak ada yang mau melewatkan pertemuan keluarga terutama pada acara suci ini," kata Sultan. 

Saudara perempuan Sultan, Hala, mengatakan dia punya kebiasaan yang hampir mirip. "Kami semua harus mengunjungi rumah kakek," kata dia. 

Namun, dia duduk terpisah dari Sultan dan laki-laki lain di keluarga besarnya. Hala menjelaskan dia duduk bersama saudara perempuan saya di tempat khusus perempuan. "Sultan duduk bersama laki-laki di tempat khusus pria yang terpisah dari perempuan," ujar dia. 

Hala menjelaskan hampir tidak ada perbedaan kebiasaan lebaran antara pria dan perempuan. Namun, dia menambahkan, perempuan Saudi cenderung menghabiskan uang lebih banyak untuk membeli make-up dan pakaian yang dikenakan ketika Idul Fitri. 

"Pria begitu sederhana, mereka hanya memakai gamis sementara kami harus tampil unik di Idul Fitri. Pria memberi eidiyyah secara tunai hanya untuk anak-anak, sementara kami cenderung membeli hadiah lebaran mewah, yang cenderung sedikit mahal. "

Hala menyebutkan hadiah Idul Fitri yang biasanya diberikan oleh perempuan, yaitu coklat, bunga, dan mainan. "Hadiah itu dikemas dengan baik dan menarik dalam keranjang Idul Fitri atau kotak kecil," kata dia.

Terpopuler