Sampah Jadi Rezeki Tambahan saat Lebaran

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Gita Amanda

Ahad 25 Jun 2017 16:45 WIB

Pemulung koran bekas shalat Ied (ilustrasi). Foto: Republika/Prayogi Pemulung koran bekas shalat Ied (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Usai shalat Idul Fitri 1438 Hijriah, sampah koran nampak berserakan di teras dan area parkir Masjid Hubbul Wathan Islamic Center Nusa Tenggara Barat (NTB). Koran-koran dan rafia sisa penanda saf itu jadi rezeki sendiri bagi Khoiruddin.

Saat Masjid Hubbul Wathan mulai sepi sstelah Shalat Idul Fitri, Khoiruddin sigap memasukkan koran yang sudah bergunduk di teras masjid. Meski masih bersarung, Khoiruddin nampak tidak kesulitan berdiri, jongkok, dan berjalan ke sana ke mari mengumpulkan sampah koran.

Koran-koran bekas alas shalat yang ditinggalkan begitu saja oleh jamaah sebelumnya nampak berserakan di teras dan parkiran. Meski sempat membuat masjid jadi tampak tak rapi, barang tak terpakai itu justru jadi rezeki buat Khoiruddin.

''Ini cuma kumpul-kumpul saja koran sisa. Lebaran begini paling hanya dapat Rp 15-30 ribu, ndak sampai ratusan ribu. Ini kelihatan banyak, tapi ndak berat,'' kata Khoiruddin, Ahad (25/6).

Harga per kilogram sampah koran hanya Rp 1.000. Sementara harga botol air mineral bekas Rp 1.500 per kilogram. Khoiruddin girang bila menemukan sampah botol minuman. Namun, meski di hari raya ini sudah tak lagi puasa, jamaah lebih banyak membawa koran ketimbang botol minum.

Sehari-hari, Khoiruddin berjualan makanan di sekitar Islamic Center NTB. Di hari raya, dagangannya libur. Agar tetap punya penghasilan, warga Dasan Agung Kota Mataram itu mencari sumber rezeki lain termasuk memunguti koran.

Khoiruddin melakukan itu seorang diri. Setelah sampah ia kumpulkan, ia akan pergi ke pengumpul untuk menjual berkantung-kantung koran yang telah ia kumpulkan. Sementara tali rafia akan ia jual ke pedagang makanan seperti pedagang martabak.

''Mereka beli rafia ya yang begini. Kalau beli bagus-bagus, ndak cukup modalnya,'' kata Khoiruddin.

Terpopuler