Di Atas Dua Pijakan

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agus Yulianto

Selasa 20 Jun 2017 19:43 WIB

Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi memberikan ceramah sebelum shalat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (8/6). Foto: Republika/Prayogi Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi memberikan ceramah sebelum shalat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (8/6).

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Dalam kajian Bank Indonesia, dalam enam tahun terakhir  kontribusi sektor ekonomi berbasis sumber daya alam  seperti pertanian dan pertambangan menunjukkan  stagnansi bahkan cenderung turun terhadap ekonomi  NTB secara keseluruhan. Sementara sektor ekonomi  berbasis jasa menunjukkan tren kontribusi yang  meningkat. Kondisi itu menunjukkan adanya pergesaran  struktur ekonomi NTB dari sumber daya alam ke sektor  jasa.

Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi mengatakan, sistem keuangan eksploitatif harus dilawan karena sistem itu merugikan. Ekonomi syariah hadir dan membuka ruang ekonomi berkeadilan yang tak cuma untuk umat Islam, tapi semua manusia.

NTB sendiri secara sadar memutuskan untuk mengonversi BPD NTB menjadi bank syariah. Hal sebagai bagian penerapan konsep ekonomi syariah. Sebab, pria yang kerap disapa Tuan Guru Bajang itu menilai tidak ada gunanya sistem ekonomi syariah bila tidak institusi yang menjalankan konsep itu. Karena itu, Tuan Guru Bajang melihat perlu ada sebanyak mungkin institusi keuangan syariah yang mudah diakses masyarakat NTB.

''Mengapa itu diperlukan? Karena meski masih tahap awal, dua tahun belakangan ini NTB jadi pionir segmen wisata halal,'' kata Tuan Guru Bajang mengawali Rembuk Republik bertajuk Daya Dukung Sektor Keuangan Syariah dalam Mengembangkan Ekonomi Regional di Ballroom Islamic Center NTB pada Kamis (15/6).

Pariwisata halal ternyata jadi subsektor wisata yang membuka pariwisata NTB bisa berkembang lebih baik dari sebelumnya. Artinya, lanjut Tuan Guru Bajang, kebijakan mengadopsi nilai ketuhanan yang baik ternyata bisa memberi kemanfatan yang lebih baik dibanding sebelumnya.

''Itu mendorong kami untuk terus menyiapkan hal-hal yang diperlukan agar semakin banyak ruang kehidupan khususnya dalam sektor ekonomi yang berpondasi nilai ilahiah,'' ungkap Tuan Guru Bajang.

Ketua Asosiasi Pariwisata Islam Indonesia (APII) TGH Fauzan Zakaria Amin menjelaskan, baik wisata halal maupun keuangan syariah, keduanya mengaplikasikan nilai mulia, baik dari sektor riil maupun finansial. Adalah hal bagus bila para pelaku wisata halal mengakses sumber modal dari lembaga keuangan syariah.

Tapi, APII melihat ini belum terlalu diprioritaskan. Ke depan, akses permodalan dari lembaga keuangan syariah harus jadi prioritas bersama. ''Saat ini prioritasnya adalah pembenahan. Karena jangan sampai sudah dapat anugerah wisata halal dunia, tapi fakta di lapangan tidak demikian,'' kata Ustaz Fauzan.

Terpopuler