REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Jalur alternatif sepanjang 2.230 kilometer di Jawa Tengah dalam kondisi baik dan siap dilalui pemudik. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menggelontorkan anggaran hingga Rp 2,8 miliar guna memperbaiki infrastruktur ini.
Selain memanfaatkan jalur tol fungsional dari Brebes Timur (Kabupaten Brebes)- Gringsing (Kabupaten Batang), para pemudik yang akan pulang ke kampong halaman juga bisa memanfaatkan jalur alternatif ini. Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, Hadi Santoso mengatakan, seluruh jalur alternatif, baik jalur tengah maupun selatan tersebut telah dilengkapi fasilitas pendukung yang cukup memadai.
Sehingga jalur yang total panjangnya mencapai 2.230 kilometer ini juga bisa menjadi alternatif bagi para pemudik. “Terutama pada saat terjadi kepadatan arus lalu lintas di jalur utama mudik,” katanya, di Semarang, Kamis (8/6).
Hadi menjelaskan, jalur alternatif tersebut menyesuaikan lintas batas wilayah di Jawa Tengah dengan daerah lainnya, seperti lintas utama Pantura yang terhubung dari perbatasan Provinsi Jawa Barat hingga Jawa Timur.
“Yakni Losari – Pejagan – Brebes – Tegal – Pemalang – Pekalongan – Batang – Weleri – Kendal – Semarang – Demak – Kudus – Pati – Rembang – Tuban atau batas Provinsi Jawa Timur,” kata politisi PKS Jawa Tengah ini.
Dari lintasan tersebut, kata Hadi, terdapat sejumlah jalur alternatif di wilayah Pantura yakni Bantarsari – Ketanggungan – Slawi – Randudongkal – Bantarbolang –Kebonagung – Wonotunggal – Bawang – Sukorejo – Boja – Ungaran – Semarang/Solo dengan jarak 373,10 kilometer. Selain itu juga ada jalur alternatif Semarang – Gubug – Godong – Purwodadi – Kunduran – Blora dengan panjang 108,76 kilometer dan Rembang – Blora – Cepu – Padangan/ di batas Jawa Timur sejauh 70,14 kilometer.
Pemudik bisa menggunakan jalur alternatif lain, yakni Semarang- Purwodadi ke Surakarta sepanjang 121 kilometer. Termasuk jalur alternatif Ciledug – Slawi – Bantarbolang- Kajen-Pekalongan sepanjang 136 kilometer. Sedangkan di Pantura wilayah Brebes ada jalur alternati Karangsawah – Karangjongkeng - Purwodadi – Linggapura sepanjang 70 kilometer, jalur Weleri – Sukorejo – Parakan- Temanggung sejauh 28 kilometer dan Majenang – Kebumen – Purworejo sepanjang 209 kilometer.
Untuk wilayah selatan (jalur selatan Selatan) untuk mudik ke wilayah Banyumas dan Cilacap, tersedia jalur alternative Patimuan–Sidareja–Jeruklegi–Gumilir–Slarang–Adipala–Bodo–Karangbolong–Puring–Petanahan–Ambal– Mirit-Wawar–Jali–Congot–hingga Batas DI Yogyakarta sepanjang 182 kilometer.
Khusus di wilayah Kabupaten Batang, yang diprediksi bakal jadi titik kemacetan pintu keluar tol, ada ruas Banyuputih- Plantungan sebagai salah satu alternatif untuk bisa mengurai kemacetan.
Untuk itu ia juga berharap peningkatan ruas jalan tersebut diharapkan akan dapat mengurai kemacetan pada puncak arus mudik tahun ini. “Jalur alternati ini cukup penting sebagai penghubung dengan jalur tengah dan selatan,” ujarnya.
Sementara itu, menyambut arus mudik/ balik lebaran 2017, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Semarang menyiagakan unit mobil Derek, di sejumlah pos pengamanan bersama aparat Polres Semarang. Kepala Dishub Kabupaten Semarang, Prayitno Sudaryanto mengatakan lima unit mobil Derek disiapkan di beberapa titik rawan di jalur utama mudik di wilayah Kabupaten Semarang.
“Mulai dari Bawen hingga perbatasan dengan Ngampel, Kabupaten Boyolali dan perbatasan Pringsurat, Kabupaten Temanggung,” ujarnya.