REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Ramadhan merupakan bulan ampunan atau bulan maghfiroh. Karena itu, di bulan suci ini manusia yang penuh dosa dianjurkan untuk bertaubat kepada Allah, sehingga bisa kembali suci seperti bayi yang baru lahir.
Di bulan ini, umat Islam berlomba untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara memperbanyak ibadah. Salah satunya dengan melaksabakan shalat tarawih berjamaah di masjid. Namun, sebelum melaksanakan tarawih tersebut, biasanya jamaah mendengarkan kultum dari salah seorang ustaz atau kiai terlebih dahulu.
Salah satunya seperti di Masjid Al Ikhlash Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ustaz Zakaria dalam kultumnya mengatakan bahwa sebelum manusia diciptakan oleh Allah, manusia merupakan makhluk yang bertauhid, berakidah, dan makhluk yang lurus. Sampai lahir pun manusia masih menjadi makhluk yang bersih dan fitrah.
"Sampai dengan detik ketika kita dilahirkan. Kita masih menjadi makhluk yang bersih, makhluk yang lurus, makhluk yang fitrah," ujarnya di malam kesembilan Bulan Ramadhan.
Namun, seiring perjalanan waktu kemudian manusia berkembang menjadi anak-anak, remaja, dewasa, dan menjadi orang tua. Saat ini lah manusia kerap berbuat dosa kepada Allah maupun kepada orang lain. "Begitu kita beranjak dewasa, kita adalah manusia yang sering berbuat dzalim, sering berbuat dosa, baik terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap Allah," ucapnya.
Tidak hanya itu, lanjutnya, saat tumbuh menjadi dewasa manusia kerap lupa bersyukur kepada Allah dan justru seringkali berkeluh kesah, serta membangkang terhadap ajaran Allah. Karena itu, manusia membutuhkan suatu cara untuk kembali menjadi fitrah seperti saat bayi.
Dengan demikian, lanjutnya, saat nantinya dipanggil kembali oleh Allah, manusia dapat mati dalam keadaan bersih dari dosa. "Dalam konteks inilah Ibadah di Bulan Suci Ramadhan menjadi sangat penting untuk melebur dosa-dosa kita manusia," kata Ustaz Zakaria.
Ia pun mengutip hadis Abu Hurairah. Nabi bersabda: ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR Bukhari dan Muslim)
Ia menuturkan, secara internal sebenarnya manusia berbuat dosa disebabkan oleh dua hal. Secara internal, manusia berbuat dosa lantaran adanya hawa nafsu dan secara eksternal yang menyebabkan manusia berbuat dosa adalah karena adanya godaan setan. Berdasarkan sabda nabi, lanjutnya, setidaknya sumber dosa manusia tersebut juga ada dua, yaitu jika tidak berasal dari dua tulang rahangnya maka pasti berasal dari dua tulang pahanya.
Dari dua tulang rahangnya, yaitu dosa dari makanan, minuman, pembicaraan dan perkataan. Sementara, dari tulang pahanya maksudnya adalah nafsu seksualitas. "Di Bulan Suci Ramadhan hal ini juga dikendalikan dengan sangat baik dengan berpuasa. Karena itu, Bulan Suci Ramadhan akan melebur dosa kita apabila kita bisa beribadah dengan sangat baik," katanya.
Ustaz Zakaria menambahkan, di Bulan Suci Ramadhan ini manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya dan setan-setan pun dibelenggu. Karena itu, Bulan Ramadhan menjadi momentum untuk memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa sebelumnya. "Di Bulan Suci Ramadhan hawa nafsu dikendalikan secara penuh. Godaan biksikan setan terbelenggu dan terikat di Bulan suci Ramadhan," jelasnya.