Shaumnya Rasulullah SAW

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Agus Yulianto

Selasa 30 May 2017 12:51 WIB

Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi Foto: Republika/Muhammad Nursyamsyi Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Gubernut NTB, TGH Muhammad Zainul Majdi

Deskripsi puasanya nabi besar Muhammad SAW itu bisa kita lihat dari bagaimana orang-orang terdekat beliau menggambarkan pribadi beliau di dalam puasa. Yang pertama adalah Rasulullah SAW menjadikan bulan puasa, bulan ramadhan itu, benar-benar bulan yang istimewa.

Jadi, Rasulullah SAW pada saat bulan suci ramadhan melipatgandakan kebaikan yang beliau bisa lakukan. Rasulullah SAW itu orang yang pemurah, dan semurah-murahnya beliau, tampak nyata di dalam bulan suci ramadhan. Itu yang pertama, ramadhan bulan istimewa bagi beliau dan beliau menggunakannya benar-benar menjadi kesempatan untuk melipatgandakan kebaikan.

Kedua, Rasulullah SAW memahami puasa itu tidak hanya aktivitas lahiriah, tapi lebih kepada gerak spiritual. Gerak spiritual itu artinya menata dan mengarahkan batin untuk lebih dekat kepada Allah SWT yang dilambangkan dengan intinya adalah //Habluminallah// pasti tercermin di dalam //Hablumminnas//.

Jadi, olah spiritual itu tercermin dalam pola interaksi beliau dengan orang-orang yang ada di sekitar beliau khususnya pada bulan suci ramadhan, bagaimana pola interaksi beliau, aspek-aspek yang menyangkut kemaafan, keluasan hati, kelapangan hati, kemakluman kepada orang itu tampak nyata di dalam bulan suci ramadhan pada diri beliau, Rasulullah SAW. Rasulullah SAW di dalam ramadhan menjadi orang yang pemaafnya luar biasa, menjadi orang yang kelapangan hatinya sangat luar biasa, menjadi orang yang hubungan kepada manusia yang lain itu betul-betul menampakan kasih sayang yang nyata, khususnya di dalam bulan suci ramadhan.

Maka, Rasulullah SAW sering mengingatkan, Al-Imam al-Bukhori rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Shohih-nya no. 1894 dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu bahwa Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

«الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ؛ مَرَّتَيْنِ»، وفي روايةٍ (1904): «فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ».

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan berbuat bodoh. Dan apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencelanya, maka katakanlah ‘aku sedang puasa’.

Kalau kita diletakan dalam posisi ditantang, disakiti oleh orang, maka maafkan dan katakan maaf saya sedang berpuasa, jadi ini bagian dari olah spiritual yang ditekankan oleh Rasulullah SAW di dalam bulan puasa.

Yang ketiga, Rasulullah SAW memandang bulan suci ramadhan itu sebagai momen spiritual yang tidak menyebabkan beliau menarik diri. Momen spiritual justru kerja-kerja kemanusian itu semakin meningkat, kerja-kerja peradaban di dalam bulan suci ramadhan tetap berjalan, jadi shaum dengan spritualitas yang diciptakan di dalam bulan ramadhan itu bukan berarti seseorang itu mengunci pintunya, menutup jendela, dan tidak mau bertemu dengan orang lain.

Tapi, justru di dalam bulan suci ramadhan itu banyak contoh dari tindakan dan aktivitas Rasulullah SAW yang menunjukan bahwa pencapaian beliau pada bulan suci ramadhan di dalam membangun peradaban, di dalam menata masyarakat itu bahkan meningkat dibanding sbelumnya. Contoh peristiwa Badar itu terjadi pada bulan suci ramadhan. Perisitiwa Fathu Makkah yang juga terjadi pada bulan suci ramadhan. Itu artinya adalah bulan suci ramadhan tidak menghalangi untuk menuntaskan kerja-kerja peradaban. Jadi, spiritualitas bulan suci ramadhan bagi Rasulullah SAW adalah spiritualitas yang tersambung dengan alam nyata dan bulan suci ramadhan adalah kesempatan untuk melipatgandakan kerja kerja peradaban.

Yang terakhir, bahwa shaumnya Rasulullah SAW adalah itu ketika berpuasa itu menganggapnya sebagai suatu keriangan, bukan sesuatu yang memberatkan. Contoh Rasulullah SAW ketika pulang ke rumah bukan saat ramadhan, tapi tetap berpuasa bertanya pada istri, ada makanan tidak di rumah. Kata sang istri tidak ada, kalau begitu saya puasa.

Puasa itu bukan sesuatu yang mesti ditakuti tapi dinikmati betul, dan puasa itu dijadikan sebagai makanan batin yang menyenangkan, bukan sebagai aktifitas fisik yang melelahkan. Mari dihayati, dan juga dimaknakan betul seperti Rasulullah SAW yang selalu bersuka cita ketika berpuasa dan kata para sahabat tidak ada waktu wajah Rasulullah SAW lebih ceria dibandingkan saat akan tiba bulan suci ramadhan. Jadi puasa adalah aktivitas menyenangkan, olah spiritualitas yang membuat kita riang gembira, bukan aktifitas fisik yang melelahkan dan menakutkan. Wallahu Alam Bi Shawab.

Terpopuler