Bubur Samin Jadi Iftar Istimewa di Solo

Red: Yudha Manggala P Putra

Senin 29 May 2017 06:06 WIB

Ratusan warga saling berebut bubur samin yang dibagikan petugas Masjid Darussalam di Solo, Jawa Tengah. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay Ratusan warga saling berebut bubur samin yang dibagikan petugas Masjid Darussalam di Solo, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Bubur Samin mungkin sudah menjadi menu yang biasa ditemui sehari hari di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Namun lain lagi di Solo, Jawa Tengah. Bubur khas ini justru hanya bisa didapati pada bulan Ramadan dan hari raya umat Islam saja.

Tak heran ratusan orang dari berbagai daerah antusias mengantre untuk mendapatkan iftar (makanan untuk berbuka puasa) berupa bubur samin di Masjid Darussalam Jayengan, Serengan, Solo, Jawa Tengah, Ahad (28/5) petang.

Acara tradisi unik dengan menu bubur Samin menjelang berbuka puasa tersebut dihadiri tidak hanya warga sekitar, tetapi juga dari luar daerah, seperti Karanganyar, Klaten, dan Sukoharjo.

Gatot (40), warga asal Boyolali mengaku sengaja datang ke Masjid Darussalam Jayengan Solo untuk

mendapatkan bubur samin, kemudian membawa iftar itu ke rumah. "Saya berharap dengan mendapat bubur samin, keluarga saya mendapat berkah dan keselamatan," kata Gatot.

Warga yang ingin mendapatkan bubur samin sudah berdatangan melakukan antrean sejak pukul 16.00 WIB. Mereka terlihat membawa tempat sendiri dari rumah untuk mendapatkan jatah takjil bubur samin yang sudah dilakukan pada zaman nenek moyang mereka.

Ketua Pengurus Masjid Darussalam Solo H. Rosyidi Muchdlor membenarkan hidangan tersebut sebenarnya merupakan makanan yang mungkin biasa dijual setiap hari di Banjarmasin. Istimewanya di Kota Solo hanya dibuat pada bulan Ramadan dan hari raya umat Islam.

Rosyidi menceritakan awal mula bubur samin dan Masjid Darussalam tersebut. Tempat ibadah bagi umat Islam itu semula berupa langgar yang didirikan pada tahun 1907 oleh para saudagar dan pengrajin batu mulia berasal dari Martapura, Banjarmasin.

Para perantau untuk berdagang asal Kalimantan itu di Kota Solo kemudian berinisiatif membangun langgar di Jayengan. Langgar Jayengan yang dibuat oleh para pengrajin batu mulia tersebut semula berupa bangunan terbuat dari anyaman bambu, kemudian menjadi bangunan dari batu pada era 1930-an.

Para saudagar yang sudah berhasil berdagang di Solo, lantas melakukan pembangunan masjid dengan bentuk tembok seperti sekarang ini. Masjid itu sejak zaman dahulu merupakan tempat pertemuan para saudagar di Kota Solo.

Mereka berkumpul dan bersilaturahmi, terutama pada bulan puasa, disajikan takjil berupa bubur samin. Hal itu diperkirakan mulai pada era 1965-an hingga sekarang.

Bubur itu, kata dia, dimasak dengan minyak samin yang ciri khas warnanya kekuningan, kemudian ditambah sejumlah rempah, seperti kapulogo, kayu manis, dan lainnya diramu menjadi satu. "Bubur beras ini juga diberikan daging dan sayuran serta diaduk selama kurang lebih 4 jam," katanya.

Menurut dia, untuk membuat bubur samin pada bulan puasa tahun ini, rata-rata sebanyak 45 kilogram beras per hari.

Ia mengatakan bahwa bubur samin tidak hanya untuk masyarakat miskin, tetapi berbagai kalangan agar semua bisa merasakan kenikmatan rasa bubur asal Banjarmasin itu, khususnya dalam menyemarakkan Ramadan 1438 Hijriah.

Terpopuler