Teguran Rasul, Penyesalan Usamah

Red: Didi Purwadi

Senin 22 May 2017 05:31 WIB

. Foto: EPA/Vassil Donev .

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Usamah bin Zaid menerima pelajaran hidup yang sangat berharga dan tidak terlupakan dari Nabi Muhammad SAW. Pelajaran yang ia pegang teguh sepanjang hayat hingga meninggal pada akhir masa kekhalifahan Mu'awiyah.

Dua tahun sebelum Rasulullah wafat, putra Zaid bin Haritsah itu diutus bersama suatu rombongan untuk menghadapi kaum musyrikin. Ini adalah kali pertama bagi Usamah menjadi seorang pemimpin pasukan.

Penampilan Usamah begitu sederhana. Ia juga dikenal sebagai seorang pemuda cerdas dan rendah hati.

Usamah memiliki seluruh sifat agung yang membuatnya dekat di hati Rasulullah. Dalam usia belum genap 20 tahun, ia pun ditunjuk sebagai komandan pasukan yang di antara prajuritnya terdapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Kala itu, ia diminta memimpin pasukan untuk memerangi kaum musyrikin. Umat Islam mampu meraih kemenangan gemilang.

Usamah kemudian menghadap kepada Nabi. Dengan wajah berseri, Rasul memintanya untuk bercerita. Usamah pun mengisahkan jalannya pertempuran.

"Ketika kaum itu terkalahkan, aku bertemu seorang laki-laki. Aku hendak menghujamkan tombak, tetapi laki-laki itu mengucapkan syahadat. Aku tetap menusuk dan membunuhnya," kisah Usamah.

Wajah Rasulullah kemudian tampak tidak senang. "Celakalah engkau wahai Usamah! Bagaimana nasibmu kelak dengan ucapan la ilaha illallah?" Demikian kata Rasul berulang kali, hingga Usamah serasa ingin membuang semua amal yang pernah ia lakukan.

Meski lelaki yang ia bunuh itu hanya menyelamatkan diri dari kematian atau mencari kesempatan kembali melawan, ia telah tergerak mengucapkan kalimat agung itu. Darah dan hidupnya terlindungi, terlepas dari apapun isi hati dan niatnya.

Ini pelajaran yang sangat berharga bagi Usamah. Sejak itu, ia berjanji tak akan pernah lagi membunuh orang (musuh) yang telah mengucapkan syahadat. Sikap itu ia pegang ketika terjadi fitnah besar antara Ali dan Mu'awiyah. Usamah berusaha bersikap netral dan berdiam diri di rumah selama pertikaian. (sumber: Biografi 60 Sahabat Rasulullah terbitan Qisthi Press)

Terpopuler