Hangatnya Bincang Sastra Religius (bagian 2)

Red: Irwan Kelana

Ahad 19 Jun 2016 14:25 WIB

Suasana diskusi sastra religius yang diadakan Litera di Pamulang, Tangeran Selatan, Banten, Sabtu (18/6). Foto: Dok Litera Suasana diskusi sastra religius yang diadakan Litera di Pamulang, Tangeran Selatan, Banten, Sabtu (18/6).

REPUBLIKA.CO.ID, PAMULANG – Sejumlah penyair dari Jadebotabek dan Aceh menggelar bincang sastra religius di Griya Litera, Pamulang, sejak siang hingga larut malam, Sabtu 18 Juni 2016.

Diskusi hangat  itu membahas  tema “Sastra dan Manusia Religius”. Pembicara adalah Mahrus Prihany, Chavchay Saifullah, dan LK Ara. Diskusi tersebut  dimoderatori oleh Mustafa Ismail.

Ada sejumlah hal yang mengemuka dalam diskusi itu. Salah satunya soal konsistensi para sastrawan antara karya dan perbuatan.  Misalnya, ada penyair yang bikin puisi tentang tahajud. “Namun ia tidak tahajud,” kata Chavchay.

Maka itu, menurut dia, sastra Islam adalah teks yang harus dekat dan sejalan dengan perbuatan. Chavchay juga mengatakan bahwa antara sastra Arab dengan sastra Islam itu berbeda. Ia menyitir bahwa pada periode pra Islam, Nabi Muhammad SAW diturunkan di negeri Arab juga untuk memerangi perilaku sastrawan kala itu yang sesat. “Islam hadir untuk memerangi sastra pra Islam yang sesat,” ujar Ketua Dewan Kesenian Banten itu.

 

Pembicara lain, Mahrus Prihany, mengatakan perkembangan Islam tak terlepas dari sastra. Sejumlah teks dalam Islam, menurutnya, sesungguhnya adalah syair alias puisi. Salah satunya, ia menunjuk Shalawat Badar. “Itu adalah puisi,” ujar Ketua Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan itu.

 

Mahrus  menjelaskan,  sastra sangat berperan dalam membentuk manusia religius. Ia juga menyebut ada beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW yang penyair dan teguh membela Nabi melawan para penyair jahiliyah yang sesat. “Beberapa ulama besar, seperti Imam Syafii, juga senang menulis puisi,” katanya.

 

Adapun LK Ara mengisahkan tentang karya penyair sufi dari Aceh, Hamzah Fansuri dan Tgk Chik Pantee Kulu. Menurut dia, puisi Pantee Kulu mampu mendorong dan membangkitkan semangat rakyat Aceh untuk memerangi penjajah.

   

Diskusi diskors begitu azan Maghrib menggema untuk berbuka puasa dan salat Magrib. Diskusi baru kembali dilanjutkan pukul 18.55. “Kita punya waktu 35 menit sampai pukul 19.30,” ujar Direktur Teroka Indonesia Mustafa  yang bertindak sebagai moderator. Tapi rupanya, ketika jarum jam bergerak di angka 19.30, diskusi belum bisa dihentikan. Pembicara maupun peserta begitu bersemangat.  Baru beberapa menit kemudian diskusi benar-benar usai.

Terpopuler