Hangatnya Bincang Sastra Religius (bagian 1)

Red: Irwan Kelana

Ahad 19 Jun 2016 14:20 WIB

Suasana  diskusi sastra yang diadakan Griya Litera di Pamulang, Tangerang Selatan, Sabtu (18/6).  Foto: Dok Literasi Suasana diskusi sastra yang diadakan Griya Litera di Pamulang, Tangerang Selatan, Sabtu (18/6).

REPUBLIKA.CO.ID,  PAMULANG – Para penyair nasional itu berkumpul di Griya Litera, Pamulang, sejak siang hingga larut malam, Sabtu 18 Juni 2016. Mereka padatang dari berbagai wilayah di  Jakarta, Bogor, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Bekasi dan Depok (Jabodetabek). Bahkan ada yang dari jauh, yakni Aceh.

Mereka berkumpul di sebuah rumah yang diberi nama Griya Litera di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten,  Sabtu (18/6)  mulai pukul 14.00 sampai larut malam. Semangatnya sama, ngabuburit sambil berdiskusi dan baca puisi untuk menghangatkan kembali kehidupan sastra religius, sejalan dengan semangat Ramadhan.

 

Sebagian dari mereka adalah nama-nama yang sudah akrab bagi pembaca sastra dan kebudayaan. Ada LK Ara, Ahmadun Yosi Herfanda, Kurnia Effendi, Mustafa Ismail, Fikar W Eda, Asrizal Nur, Chavchay Saifullah, Dianing Widya, Humam S Chudori, Shobir Poer, Zaenal Radar, Uki Bayu Sedjati, Abah Yoyok,  dan Ace Sumanta. Sebagian lagi adalah anak-anak muda yang mulai menanjak di dunia sastra seperti Mahrus Prihany, Iman Sembada, Hadi Sastra, dan Pilo Poly.

 

Acara dimulai dengan kata pembuka Direktur Lembaga Literasi Indonesia (Litera)  Ahmadun Yosi Herfanda, sang tuan rumah. Ahmadun menjelaskan bahwa acara itu digagas untuk silaturahim antar sastrawan sekaligus menambah makna bulan Ramadan dengan sastra. Itu dilakukan untuk mencoba mereaktualisasi semangat religius dalam bersastra. “Manusia, fitrahnya adalah religius. Begitu juga ketika bersastra, terutama dalam berpuisi, semangat religius akan mewarnai karya-karyanya,” katanya.

Semangat religius itu, tambahnya, akan pudar ketika penyair terpengaruh oleh faham atau keyakinan estetik baru yang sekuler. Misalnya, faham eksistensialis, atau juga prinsip seni hanya untuk seni.

“Diharapkan diskusi kecil ini dapat mengembalikan kesadaran akan pentingnya sastra religius sebagai asupan batin bagi manusia yang memang memiliki fitrah religius. Setidaknya, sebagai pengimbang bagi karya sastra yang cenderung hanya mengabdi pada estetika,” ujar Ahmadun Yosi Herfanda.

Terpopuler