Cara Malaikat Jibril Ajari Rasullullah Baca dan Hafal Alquran

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko

Jumat 03 Jul 2015 21:21 WIB

Mengaji (ilustrasi). Foto: Republika/ Tahta Aidilla Mengaji (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Selama Ramadhan, Rasulullah saling menyimak bacaan Alquran dengan Malaikat Jibril. Nabi yang membaca kemudian Jibril menyimak, demikian sebaliknya. Kebiasaan itu semakin sering menjelang kematian Rasulullah.

Menurut Pakar Alquran Ahsin Sakho, itu dilakukan supaya tidak ada satu huruf pun teks-teks Alquran yang terlewat. “Nabi Muhammad hafalannya sangat bagus, tapi beliau memberi pelajaran pada kaumnya. Alquran perlu dibaca bersama-sama, dengan cara saling menyimak,” kata Ahsin, Kamis (3/7).

Kedekatan seorang Muslim dengan Alquran merupakan manifestasi keimanan. Menurut Ahsin, keimanan kita kepada Allah, Rasul, dan kitabullah akan berimbas pada kecintaan kita kepada Alquran. Semakin kuat keimanan, semakin besar pula kecintaan pada Alquran.

Ia menjelaskan, kalau seorang Muslim sudah merasa cinta pada Alquran, ia akan benar-benar memperhatikan Alquran dan tidak bisa lepas darinya. Kecintaan itu bisa ditumbuhkan dengan membiasakan diri dekat dekat dengan Alquran.

“Caranya, tiap hari harus ada yang kita baca dari Alquran, meskipun hanya satu ayat. Kita ajak keluarga yang belum bisa membaca untuk belajar. Kalau bisa, setiap malam berkumpul di rumah membaca Alquran bersama-sama,” tuturnya.

Itu perlu dibiasakan mengingat eensi Alquran yang demikian penting bagi kehidupan seorang Muslim. Ahsin menjelaskan, Alquran adalah nilai-nilai hidup. Menurutnya, dewasa ini manusia berada pada satu masa di mana gelombang modernisasi membawa dampak yang sangat signifikan terhadap orientasi kehidupan.

Inilah zaman berkelindan berbagai pemikiran filsafat dan keagamaan. Kalau kita masuk ke dalam pusaran itu, kita akan terjerumus dalam jebakan materialisme dan kapitalisme. Menurut Ahsin, untuk mengerem semua itu, Muslim harus berpegang teguh pada Alquran.

“Orang boleh mencintai harta, kekayaan, dan kekuasaan. Tapi, jangan meninggalkan nilai-nilai Alquran. Seperti orang yang berselancar, walaupun gelombangnya besar, dia akan selamat kalau bisa mengendalikan dengan baik,” kata pakar Alquran ini.

Terpopuler