Pejabat Bijak dan Sederhana

Rep: c94/ Red: Agung Sasongko

Selasa 30 Jun 2015 08:11 WIB

Ilustrasi Ramadhan Foto: AP Photo/The Amarillo Globe News, Roberto Rodriguez Ilustrasi Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin kharismatik yang selalu siap melayani rakyatnya. Ia tegakan hukum dan keadilan dengan tegas demi kepentingan negara dan agama.

Suatu hari, sepulang dari masjid, Umar melihat seorang anak lelakinya yang masih kecil sedang menangis. Dengan terheran-heran beliau bertanya. "Mengapa engkau menangis, anakku? Apa yang terjadi,"katanya kepada anak itu.

Putranya menjawab dengan tersedu-sedu. "Teman-temanku selalu memperhatikan tambalan-tambalan bajuku. Bahkan mereka mengatakan, lihat baju anak seorang khalifah tambalannya sampai 14. Malah ada yang ditambah dengan kulit kayu.

Mendengar penuturan putrannya Umar merasa sedih dan iba. Ia berusaha menenangkannya. "Anakku, merupakan kebijakanku untuk tidak menempatkan kemewahan dalam kepemimpinanku. Walau begitu, keluhanmu akan ayah perhatikan,"ungkap Sayidina Umar kepada putranya.

Kemudian Umar melangkah pergi ke bendahara kas negara. Di sana ia berkata pada bendahara negara. "Pinjamilah aku uang sebesar empat dirham dari kas negara sampai bulan depan. Potonglah gajiku bulan depan untuk pinjaman itu."

Mendengar itu, pejabar bendahara kas negara iyu menjawab keinginan umar. "Wahai khalifah, ada apa denganmu? Mantapkan keyakinanmu untuk memimjam uang sebanyak itu? Kalau anda meningga dunia sebelum dapat melunasi semua hutangmu terhadap negara bagaimana?"

Mendengar jawaban bendaharan kas negara seperti itu, khalifah Umar bin Khattab menangis karena ketakutan kepada Allah. Ia lantas pulang menemui putrannya seraya berkata. "Duhai anakku, maafkan ayahmu. Bukan ayah tidak ingin membelikan baju untukmu, tetapi ayah tidak ingin dicap sebagai pemimpin yang hidup mengada-ada. Apa lagi bermewah-mewah mengunakan uang negara. Maka dari itu, Nak, kembalilah engkau bermain dan bersekolah bersama teman-temanmu dengan pakaian yang mampu ayah belikan. Sungguh, ayah tak mampu membelikan pakaian diluar kemampuan ayah. Ingatkah, dihadapan Allah, ketaqwaanlah yang utama."

Mendengar penuturan ayahnya yang saat ini menjadi khalifah, anaknya menjawab. "Baiklah ayah, kalau demikian keputusan ayah. Aku akan kembali belajar dan bermain dengan pakaian yang sederhana. Yang terpenting adalah aku bisa menuntut ilmu dan mendapat berkah serta ridlo dari Allah S.W.T."

Sumber : Cerita Teladan Para Sahabat dan Mujahid

Terpopuler