Anggapan Berbuka dengan yang Manis, Benarkah?

Rep: C33/ Red: Winda Destiana Putri

Jumat 19 Jun 2015 09:20 WIB

Berbuka puasa bersama di salah satu masjid di Jakarta. Foto: Republika/Yasin Habibi Berbuka puasa bersama di salah satu masjid di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memasuki bulan Ramadhan, ada penggalan kalimat yang mengatakan, 'Berbuka Puasalah dengan yang Manis'. Bahkan, ada yang mengatakan hal itu baik bagi kesehatan tubuh.

Tapi apakah itu benar? Dijelaskan oleh Dr. Saptawati Bardosano SpGk, bahwa proses penggantian cairan dan energi yang hilang selama berpuasa sangatlah penting demi menjaga kondisi tubuh. Makanan manis memang bagus karena dapat menyuplai hal tersebut ketika berbuka puasa.

"Makanan manis saat berbuka tentunya bermanfaat untuk meningkatkan kadar gula atau energi yang sudah sangat minim di dalam darah," katanya kepada Republika Kamis (18/6).

Dikatakan lebih lanjut, meski demikian, bagi pecinta manis memang perlu memikirkan ulang sebelum mengonsumsi terlalu banyak. Pasalnya, ada beberapa makanan manis yang hanya membuat tubuh merasa lapar. Itulah yang muncul saat banyak orang mengatakan buka puasa seperti 'balas dendam' karena ketika berpuasa rasa laparnya datang terus menerus. Sehingga harus dibedakan antara makanan manis alami dan buatan karena dampaknya tentu dirasakan tubuh orang berpuasa.

"Sebaiknya dipilih makanan manis dengan nilai indeks glikemik yang rendah," jelasnya. Ia mencontohkan lebih baik sesuai syariat Nabi Muhammad yaitu berbuka dengan empat buah kurma dibanding satu gelas teh manis.

Sementara itu, Dr. Inge Permadi SpGk sepakat dengan istilah 'balas dedam' ketika berbuka puasa merupakan akibat kadar gula. "Karena begitu rendahnya kadar gula jadi kita sangat lapar, jadinya balas dendam saat makan berbuka puasa," tuturnya.

Terpopuler