Tradisi Saling Berbagi Kue Lebaran Mulai Ditinggalkan

Red: Muhammad Hafil

Selasa 29 Jul 2014 17:13 WIB

 Pasar kue kering di Jatinegara, Jakarta, Rabu (23/7), mulai dipadati pembeli.  (Republika/Adhi Wicaksono) Pasar kue kering di Jatinegara, Jakarta, Rabu (23/7), mulai dipadati pembeli. (Republika/Adhi Wicaksono)

REPUBLIKA.CO.ID, MUKOMUKO -- Tradisi saling berbagi kue lebaran di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, saat ini mulai ditinggalkan oleh sebagian warganya.

"Lebaran saat ini orang malas mengantar kue lebaran ke rumah-rumah," kata warga Desa Medan Jaya, Burzan, di Mukomuko, Selasa.

Mengantar kue lebaran untuk saling berbagi kepada keluarga dekat maupun jauh merupakan tradisi lama sebagian warga di daerah itu pada saat hari pertama hingga kedua lebaran.

Menurut dia, sebagian kecil warga di wilayahnya masih ada yang mau mengantar kue ke keluarga dekat dan tetangga dan dibalas dengan kue pula.

Dikatakannya, kalau pada lebaran tahun tahun sebelumnya, hampir mayoritas warga melakukannya, sambil merasakan masakan kue buatan masing-masing.

Ia menilai, warga sekarang ini jarang saling berbagi kue lebaran di wilayah itu karena tidak ada orang yang mau memulainya.

Kendati demikian, kata dia, kebiasaan orang yang lebih muda datang ke rumah keluarganya yang lebih tua untuk meminta maaf masih tetap berjalan di wilayahnya.

Selain tradisi tersebut yang mulai ditinggalkan, kebiasaan warga memasak sendiri kue menjelang lebaran di daerah itu juga semakin ditinggalkan. Mereka lebih memilih membeli kue untuk kebutuhan lebaran.

"Saya mengeluarkan biaya untuk pembuatan kue lebaran tahun ini sebesar Rp350.000. Jumlahnya cukup sampai habis lebaran, dari pada membuat sendiri biayanya tidak jauh berbeda," ujarnya.

Selain itu, kata dia, dengan uang sebesar itu, dia dan keluarga dapat menikmati berbagai jenis kue lebaran dengan rasa yang lebih enak.

Terpopuler