Lebaran, Bunga, dan Rezeki

Rep: c81/ Red: Mansyur Faqih

Senin 28 Jul 2014 09:24 WIB

Warga membeli bunga mawar di Pasar Bunga Rawa Belong, Palmerah, Jakarta Barat Foto: Yasin Habibi/Republika Warga membeli bunga mawar di Pasar Bunga Rawa Belong, Palmerah, Jakarta Barat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak seperti jalanan Jakarta lainnya yang sepi dari kendaraan, kawasan di sekitar Pasar Bunga Rawa Belong justru ramai dan macet. 

Mobil dan motor berdesakan di gang yang luasnya hanya sekitar dua kendaraan mini van untuk menuju pusat penjualan bunga di Jakarta tersebut. 

Belum mencapai pasar, pedagang berbagai macam bunga sudah menyambut. Aroma wewangian bunga sudah tercium bagi siapa pun yang melewati jalan tersebut. 

Bahkan, jalanan sempit itu bagaikan taman bunga dengan hiasan warna-warninya yang berderet sepanjang sisi jalanan.

Malam itu tepat malam takbiran. Senin (28/7), umat Islam akan merayakan lebaran. Untuk menyambutnya tentu semua harus serba indah. Mulai dari prilaku hingga tampilannya. 

Begitu juga orang-orang yang menyambangi Pasar Bunga Rawa Belong. Mereka ingin Idul Fitri menjadi hari spesial, semua harus tampak indah. Maka sebagian dari mereka mendatangi pasar tersebut untuk memperindah tampilan rumah mereka. 

"Buat mendekorasi rumah, supaya kalau ada tamu enak dilihat, dan kelihatan indah," kata salah satu pembeli bunga Ade Yusuf. 

Pria yang datang bersama istrinya tersebut mengaku setiap tahun rutin membeli bunga saat Idul Fitri. "Untuk sekarang kami membeli mawar ester, oister," kata sang istri. 

Kesempatan Hari Raya tentu tak di sia-siakan para pedagang bunga, mereka menaikan harga bunga bahkan hingga tiga kali lipat. "Kita jual sedikit mahal karena memang barangnya terbatas," kata Wawa, salah satu pedagang bunga di Pasar Rawa Belong. 

"Tapi kita memang bukan berniat nakal atau jahat. Tapi memang hukum pasar seperti itu," kata pria 22 tahun tersebut. 

"Kita bisa saja naik sewaktu-waktu tergantung kondisi."

Wawa mengibaratkan harga bunga sama seperti harga indek saham yang sewaktu-waktu berubah. "Kadang pagi harga masih Rp 12 ribu, sorenya bisa naik hingga Rp 30 ribu," katanya sambil menunjuk Bunga Ester. 

Omzet Wawa jelang Idul Fitri memang bisa meningkat dua kali lipat. Ia bisa mendapatkan untung sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per hari.  

Namun hal itu dikatakannya sangat jarang sekali terjadi. 

"Kalau bukan Idul Fitri kita tak seramai ini, cuma sekarang saja momennya," kata pria yang sudah 10 tahun berjualan bunga tersebut. 

Hal senada juga diungkapkan Ade. Menurutnya momen ramai seperti ini hanya terjadi saat Imlek dan Idul Fitri saja. Bahkan, hari raya lainnya pembeli tidak seramai saat ini. 

"Akan ramai lagi seminggu setelah Lebaran biasanya, karena banyak hajatan," kata pria asal Jakarta itu. 

Pria yang sudah menjual bunga sejak empat tahun lalu itu juga mengatakan kalau tahun ini memang lebih ramai dibanding sebelumnya. "Tapi, keuntungan ini sih buat nutupin hari-hari biasanya," katanya. 

"Saya naikin harga karena saya ambil barang dari Malang langsung. Kalau hari biasa dikirim lewat kereta, tapi karena permintaan mendesak jadi dikirim lewat pesawat. Makanya saya naikin," kata penjual mawar tersebut. 

Mawar per buket dengan isi 20 tangkai kini dijual dengan harga Rp 50 ribu rupiah. Padahal, biasanya Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. "Ya mau giamana lagi, karena pengiriman dan momennya juga," katanya.  

Tak jauh berbeda dengan Wawa, pada momen ramai seperti ini pendapatan Ade juga bisa meningkat hingga dua kali lipat. 

"Dapatlah sekitar dua juta sampai dua setengah, tapi nggak sampai tiga juta," kata pria yang khusus menjual bunga mawar tersebut. 

Terpopuler