Shuhaib bin Sinan, Pedagang yang Beruntung (2)

Red: Chairul Akhmad

Sabtu 26 Jul 2014 13:46 WIB

Perjalanannya yang panjang berakhir di Kota Makkah. Foto: Pantherkut.com Perjalanannya yang panjang berakhir di Kota Makkah.

REPUBLIKA.CO.ID, Shuhaib adalah seorang pendatang dan perantau. Sedang sahabat yang berjumpa dengannya di ambang pintu rumah itu adalah Ammar bin Yasir yang juga seorang miskin. Tetapi mengapa keduanya berani menghadapi bahaya?

Itulah pengaruh kepribadian Muhammad SAW yang kesan-kesannya telah mengisi hati orang-orang baik dengan hidayah dan kasih sayang. Pesona dari barang baru yang bersinar cemerlang yang telah memukau akal fikiran yang muak melihat kebasian barang lama, bosan dengan kesesatan dan kepalsuannya.

Dan di atas semuanya, itulah rahmat dari Allah SWT yang dilimpahkan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Serta petunjuk-Nya yang diberikan kepada orang yang kembali dan menyerahkan diri kepada-Nya.

Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang-orang beriman. Bahkan ia telah membuat tempat yang luas dan tinggi dalam barisan orang-orang yang teraniaya dan tersiksa. Begitu pula dalam barisan para dermawan dan penanggung uang tebusan.

Pernah diceritakan keadaan sebenarnya yang membuktikan rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang Muslim yang telah baiat kepada Rasulullah dan bernaung di bawah panji-panji agama Islam,

Ia pernah berkata, "Tiada suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali pastilah aku menyertainya. Dan tiada suatu baiat yang dialaminya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tiada suatu pasukan bersenjata yang dikiriminya kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya. Tidak pernah beliau bertempur baik di masa-masa pertama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau sebelah kirinya."

Shuhaib juga menceritakan bahwa kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan kaum Muslimin di hadapan mereka pastilah ia akan menyerbu paling depan. Demikian pula jika ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti ia akan mundur ke belakang. “Aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah SAW berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah,” prinsipnya.

Suatu gambaran keimanan yang istimewa dan kecintaan yang luar biasa. Mulai saat itu hubungannya dengan dunia dan sesama manusia, bahkan dengan dirinya pribadi menda­patkan corak baru. Jiwanya telah tertempa menjadi keras dan ulet, zuhud tak kenal lelah.

Terpopuler