Tukang Becak Diminta tak Beroperasi di Pasar Jalur Pantura

Rep: Lilis Handayani/ Red: Esthi Maharani

Kamis 24 Jul 2014 15:58 WIB

Tukang becak (ilustrasi) Foto: Republika/Yasin Habibi Tukang becak (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Bupati Cirebon, Sunjaya Purwadi, meminta para tukang becak untuk tidak beroperasi di pasar-pasar yang berada di sisi jalur pantura Cirebon, Jawa Barat. Hal itu dimaksudkan demi kelancaran arus kendaraan pemudik.

''Saya instruksikan kepada tukang becak untuk ‘mengandangkan’ becaknya mulai H-3,'' tegas Sunjaya, Kamis (24/7).

Bupati pun memberikan kompensasi kepada tukang becak yang tak mengoperasikan becaknya di pasar jalur pantura. Utamanya bagi mereka yang biasa mangkal di delapan pasar tradisional di Kabupaten Cirebon. Yakni Pasar Sumber sebanyak 300 tukang becak dan Pasar Pasalaran sebanyak 250 tukang becak.

Selain itu, Pasar Jamblang sebanyak 200 tukang becak, Pasar Minggu sebanyak 200 tukang becak dan Pasar Tegalgubug sebanyak 250 tukang becak. Ditambah lagi, Pasar Celancang sebanyak 250 tukang becak, Pasar Mundu sebanyak 200 tukang becak dan Pasar Gebang sebanyak 500 tukang becak.

Total uang yang dibagikan kepada tukang becak tersebut sebanyak Rp 107.500.000. Setiap tukang becak menerima uang Rp 50 ribu yang dimasukkan ke dalam amplop putih.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di Pasar Pasalaran, Kecamatan Weru, para tukang becak yang akan menerima kompensasi sudah duduk rapi di atas becaknya masing-masing, yang diparkirkan berjajar di sepanjang sisi kanan jalan, atau di jalur balik Cirebon menuju Jakarta.

Bupati pun menghampiri mereka satu per satu sambil membagikan amplop putih yang berisi uang kompensasi. Namun, saat baru membagikan setengah jalan, bupati dihadang sejumlah wartawan yang minta untuk wawancara.

Bupati pun menuruti permintaan para wartawan tersebut. Namun, selesai wawancara, bupati langsung meninggalkan lokasi bersama dengan rombongannya. Padahal, masih ada sejumlah tukang becak yang belum menerima kompensasi tersebut.

Tak ayal, hal itu mengundang kemarahan para tukang becak. Mereka berteriak kesal ke arah rombongan bupati yang sudah menjauh, sambil memukul-mukul becak mereka.

''Saya sudah mengantri dari pagi di sini. Bahkan saya terpaksa menolak penumpang karena ingin cepat-cepat antri di sini,'' keluh seorang tukang becak asal Desa Setu Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Sali (42).

Ia dan tukang becak lain yang belum mendapatkan kompensasi pun bertekad untuk tetap beroperasi di depan pasar tumpah. Apalagi, uang kompensasinya mereka nilai tidak sesuai untuk menggantikan penghasilan yang biasa mereka peroleh.

''Kalau lagi ramai seperti ini, bisa dapat Rp 100 ribu sehari,'' tutur Muklas.

Terpopuler