Maidaturrahman Hidangan Berbuka di Bumi Kinanah (2-habis)

Red: Chairul Akhmad

Sabtu 19 Jul 2014 20:34 WIB

Suasana Maidahrahman di Kairo, Mesir. Foto: AP Photo/Amr Nabil/ca Suasana Maidahrahman di Kairo, Mesir.

Oleh: Hannan Putra

Untuk menarik antusias orang-orang yang ingin berbuka, para penyaji maidaturrahman menghidangkan hidangan berbuka yang spesial.

Biasanya, hidangan berbuka, seperti daging rebus, ayam goreng, sup kacang, sayur ful (kacang biji), dan nasi kebuli paling sering dihidangkan.

Ada juga tursy (wortel, kentimun, cabai, jeruk nipis yang diasamkan) sebagai lalapan. Tak ketinggalan makanan khas Mesir yang hanya ada pada bulan Ramadhan, seperti kunafa dan qathayif.

Tempat penyelenggaraan maidaturrahman pun dirias sedemikian rupa sehingga menarik antusias warga. Tak hanya spanduk dan hiasan-hiasan, tapi juga lampu-lampu kerlap-kerlip yang disebut fanus selalu menghiasi hingga ke sudut kota. Biasanya, maidaturrahman terletak di masjid-masjid pusat kota dan di pinggiran jalan yang dekat dengan keramaian.

Salah seorang dermawan penyelenggara maidaturrahmanmm, Syekh Shalah ‘Atiyah, menyebutkan, maidaturrahmanmm merupakan tradisi yang tak bisa dipisahkan dengan bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah berjalan beratus-ratus tahun semenjak Islam ada di Mesir.

Ia sendiri menyajikan buka puasa untuk 500 hingga seribu orang setiap harinya untuk warga Tafahna Al Asyraf, Provinsi Daqahliah, Mesir. Masih banyak lagi para dermawan yang menggelar maidaturrahman untuk puluhan ribu orang setiap harinya selama Ramadhan.

Maidaturrahman juga menjadi perhatian khusus bagi mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir. Bagi mereka kehadiran maidaturrahman cukup menghemat kantong dan tidak perlu direpotkan lagi untuk memasak. Mahasiswa yang sibuk dengan tugas kuliah lebih cenderung memilih yang praktis apalagi gratis.

Bagi penyelenggara maidaturrahman mengundang orang Indonesia merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Menurut mereka, orang Indonesia patut dimuliakan. Karena kedatangan mereka ke Bumi Kinanah itu dalam rangka menuntut ilmu agama Islam yang bisa disebut juga dengan orang-orang fi sabilillah (di jalan Allah).

Banyak juga yang sengaja menyediakan jemputan untuk orang Indonesia agar berkenan menghadiri maidaturrahman. Setelah selesai berbuka puasa dan shalat Maghrib, sebelum pulang, mereka juga diberi musa’adah (bantuan dana). Makanan yang berlebih terkadang juga diperbolehkan untuk dibawa pulang.

Selain penyelenggara maidaturrahmanmm dalam jumlah besar, juga ada warga Mesir yang membagikan takjil di pinggir-pinggir jalan. Kehadiran mereka biasanya ketika sudah dekat waktu berbuka.

Beberapa orang pemuda akan berdiri di perempatan jalan, seperti lampu merah dan perlintasan kereta api. Mereka akan membagikan lima butir kurma yang sudah dibungkus dalam kantong plastik kecil dan sebuah air mineral dalam kemasan.

Mereka akan mendatangi pengendara motor dan mobil untuk membagikan takjil tersebut. Banyak di antara mereka yang berasal dari organisasi kampus maupun LSM, tapi yang lebih banyak berasal dari pribadi. Hal itu mereka lakukan semata-mata untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya pada bulan Ramadhan.

Terpopuler