Gurihnya Bubur Samin Masjid Darussalam (2-habis)

Rep: Edy Setiyoko/ Red: Chairul Akhmad

Kamis 17 Jul 2014 14:34 WIB

Ratusan warga saling berebut bubur samin yang dibagikan petugas Masjid Darussalam di Solo, Jawa Tengah. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay Ratusan warga saling berebut bubur samin yang dibagikan petugas Masjid Darussalam di Solo, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, Sekitar tahun 1930, komunitas saudagar Banjar yang bermukim di sekitar Masjid Darussalam merintis tradisi menyediakan bubur samin sebagai menu berbuka para jamaah masjid. 

Ternyata, tradisi itu tetap lestari hingga saat ini. Menilik sejarah itu pula, sangat bisa dipahami bila sebagian orang menyebut bubur samin sebagai bubur banjar.

Menurut Anwar, setiap harinya pengurus Masjid Darussalam menghabiskan 40 kg beras dan sekitar lima kg bumbu, antara lain, bawang merah, bawang putih, kapulaga, jahe, serai, kayu manis, lengkuas, dan kunyit.

Tak ketinggalan, bahan lainnya, seperti santan, minyak samin, telur, dan daging sapi. Saat disajikan, bubur samin dilengkapi dengan sambal goreng, telur, dan daging yang biasanya diolah dengan bumbu kare.

Dibutuhkan dana sekitar Rp 2 juta untuk membeli bahan-bahan tersebut. Artinya, selama bulan Ramadhan, pengelola masjid harus menyediakan dana sekitar Rp 60 juta untuk menyajikan bubur samin kepada masyarakat.

Tak hanya sajian berbuka, Masjid Darussalam juga menyediakan makanan sahur lengkap yang terdiri atas nasi, lauk-pauk, susu, teh, dan kopi.

“Jadi, tanpa membawa uang pun, orang bisa hidup sebulan gratis di Masjid Darussalam. Dan, menu yang kami sajikan penuh gizi,” kata Anwar.

Meski membutuhkan dana tidak sedikit, takmir masjid nyaris tak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk menyajikan bubur samin kepada masyarakat selama sebulan penuh. Bisa dikatakan, semua bahan datang sendiri dari sponsor, antara lain, para pengusaha permata keturunan Banjar, pedagang permata WNI keturunan, dan tokoh Muslim setempat.

“Mereka datang sendiri, ada yang membawa beras, teh, susu, kopi, daging, telur dalam jumlah berlimpah. Kadang, takmir tinggal membeli rempah-rempahnya saja.”

Turun-temurun

Ketua Takmir Masjid Darussalam HM Rosyidi Muchdlor mengatakan, tradisi menyediakan bubur samin kepada masyarakat sudah dilakukan turun-temurun. Puluhan tahun lalu, ia mengungkapkan, banyak orang Banjar, Kalimantan Selatan, yang merantau ke Solo untuk berdagang batu permata Martapura.

Awalnya, mereka menjadikan masjid sebagai tempat berkumpul. Akhirnya, mereka pun menetap di perkampungan sekitar masjid. Tak aneh, bila saat ini sebagian besar warga di sekitar Masjid Darussalam termasuk orang-orang keturunan Banjar.

Saat kecil, Rosyidi pun sering mengantre untuk mendapatkan bubur samin. Menurutnya, bubur samin sebenarnya mirip bubur ayam biasa. Bedanya, bubur samin diberi bumbu yang merupakan paduan aneka rempah serta diberi pelengkap berupa potongan daging sapi dan sayuran, seperti wortel dan daun bawang, serta susu.

Aroma khas Banjar dari bubur ini menyeruak melalui kehadiran rempah-rempah, seperti kapulaga serta minyak samin. “Minyak samin inilah yang menjadikan bubur berwarna kekuningan.”

Ketua Yayasan Darussalam H Zamani menambahkan, bagi warga asal Banjar di Solo tradisi bubur samin di Masjid Darussalam merupakan obat rindu kepada kampung halaman. “Dengan menikmati bubur samin mereka seakan bernostalgia dengan kampung halaman dan para leluhur mereka.”

Terpopuler