Khalid bin Said bin Ash, Kebesaran Jiwa Seorang Sahabat (4-habis)

Red: Chairul Akhmad

 Selasa 15 Jul 2014 14:53 WIB

Khalid adalah seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara. Foto: Angus Thompson Khalid adalah seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara.

REPUBLIKA.CO.ID, Belakangan pendirian Khalid bin Said ini berubah.

Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di masjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka ia pun membaiatnya dengan tulus dan hati yang teguh.

Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria (Suriah), dan menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Said, hingga dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara.

Tetapi sebelum tentara itu bergerak meninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Said, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, hingga akhirnya Abu Bakar merubah keputusannya dalam pengangkatan ini.

Abu Bakar Ash-Shiddiq meringankan langkah ke rumah Khalid meminta maaf padanya serta menerangkan pendiriannya yang baru.

Abu Bakar menanyakan Said kepada kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah?

Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjukkan kebesaran jiwa dan ketakwaannya. "Anak pamanku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya." Kemudian ia memilih sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah.

Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Syria, yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, terdapat seorang syahid yang mulia.

Ketika kaum Muslimin mencari-cari para syuhada sebagai korban pertempuran, mereka mendapati jasad Khalid dalam keadaan tenang, diam, dengan seulas senyum tipis. (101 Sahabat Nabi dan sumber lain)

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X