REPUBLIKA.CO.ID, KENYA -- Demi membantu para pengungsi Somalia yang ditahan di kamp Kasarani Kenya. Muslim Kenya meluncurkan kampanye untuk menawarkan buka puasa bagi para pengungsi yang tak berdaya itu selama bulan suci Ramadhan.
“Kami telah mampu menyediakan makanan untuk sekitar 50 orang setiap hari. Ini termasuk menyediakan makanan sahur bagi ummat Islam dan akan terus berlanjut selama bulan suci ini, Insya Allah,” ujar Najda Khan, seorang aktivis hak asasi manusia, sekaligus pendiri kampanye iftar Kasarani, seperti dikutip dari Somalia Current pada Selasa, (15/7).
Ia menjelaskan, para wanita di sana memerlukan satu set pakaian, serta handuk bersih, untuk merawat tubuhnya. "Kami telah memberikan para wanita satu set pakaian bersih, serta handuk bersih," tutur Najda.
Selain pakaian, para tahanan juga banyak yang memerlukan obat-obatan dasar, seperti antibiotik atau pembunuh rasa sakit. Bahkan ada pula tahanan yang menderita asma dan memerlukan pompa, serta anak-anak yang membutuhkan sirup batuk. Sebisa mungkin, Najda beserta kelompoknya, menyediakan kebutuhan itu.
Ditahan selama berbulan-bulan di kamp Ksarani, yang terletak di ibukota Nairobi, ratusan pengungsi Muslim Somalia menderita akibat penelantaran dan ditolak hak-hak hukum mereka. Maka dari itu, tak hanya membantu menyiapkan keperluan para pengungsi, kampanye Iftar Kasarani pun bertujuan untuk mengungkapkan siksaan yang dialami mereka.
Penyelenggara kampanye iftar ini mendesak Muslim Kenya untuk menyumbangkan makanan yang sedang terhambat oleh pasukan keamanan. “Muslim membentuk persentase besar dari penduduk di Kenya dan mereka mampu mengajak jutaan orang terutama selama bulan suci Ramadhan untuk menyediakan buka puasa kepada saudara dan saudari kita yang ditahan di Kasarani,” kata Najda..
Sejak April lalu, sekitar 4.000 pengungsi Somalia sudah ditahan di kamp Kasarani. Kurang lebih 300 dari mereka telah dideportasi ke Somalia selama operasi keamanan Eastleigh oleh pasukan keamanan Kenya.
Keluarga para tahanan juga mengeluh tentang kurangnya perhatian dari kedutaan Somalia di Kenya atas situasi para pengungsi. Kedutaan Somalia pun dituduh tak berusaha melmbebaskan warganya.
“Mengapa orang-orang yang memiliki kewarganegaraan duduk di sel selama berbulan-bulan, mereka tidak memiliki kedutaan untuk memperjuangkan hak-hak mereka,” ujar Najda. Ia menambahkan, pemerintah Somalia terkesan tak peduli, pada para Muslim yang ditahan.
Mendengar berbagai kecaman seperti itu, Duta Besar Somalia di Kenya, Muhammad Ali Nur menyatakan, kedutaan telah berhasil membebaskan 25 pengungsi Somalia dari beberapa pusat penjara yang berbeda termasuk Kasarani. Hanya saja, Najda dan rekan-rekannya tak mempercayai hal itu.
Lebih lanjut, penyelenggara kampanye Iftar Kasarani, menghimbau umat Islam untuk memboikot iftar yang akan diselenggarakan oleh Presiden Kenya, Uhuru Kenyatta, sebagai protes terhadap penahanan mereka. Najda menganggap, para tahanan Somalia, sudah terlalu banyak menderita.
Muslim Kenya telah merasakan penghapusan hak-hak mereka setelah negara mereka terlibat dalam perang melawan terorisme, di Afrika Timur. Dengan dukungan dari Inggris dan AS, polisi anti-teror Kenya tdituduh menargetkan Muslim yang tak bersalah dengan penangkapan sewenang-wenang serta penculikan.