Dugderan, Pasar Rakyat Saat Ramadhan

Rep: c72/ Red: Chairul Akhmad

Jumat 11 Jul 2014 20:36 WIB

Karnaval Dugderan merupakan tradisi khas warga Kota Semarang yang digelar untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Foto: Antara/R Rekotomo Karnaval Dugderan merupakan tradisi khas warga Kota Semarang yang digelar untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, Masyarakat Jawa Tengah, khususnya Semarang, menjelang Ramadhan selalu menanti dugderan. Dugderan merupakan tradisi masyarakat Semarang untuk menyambut datangnya Ramadhan.

''Tradisi ini diisi dengan kegiatan berupa pasar rakyat dan festival, hal ini diadakan oleh masyarakat Semarang sekitar dua minggu sebelum Ramadhan tiba,'' ujar Rianti Wardhani, warga asli Semarang.

Menurutnya, dugderan merupakan kegiatan yang bertujuan mengajak masyarakat menyambut datangnya Ramadhan dengan penuh sukacita. Ia menjelaskan, kata dugderan sendiri terbentuk dari kata dug yang merupakan kiasan dari suara beduk.

Kemudian, kata ‘der’ yang merupakan kiasan dari suara petasan, dan kata 'an' yang merupakan kata yang biasa digunakan oleh masyarakat Jawa Tengah dalam menggambarkan suatu kegiatan.

''Dari susunan kata tersebut maka dapat tergambarkan bahwa dugderan merupakan kegiatan yang diramaikan oleh suara bedug dan suara petasan,'' ujar Rianti.

Rianti mengatakan, suara beduk dan petasan dalam tradisi dugderan merupakan suara yang menandakan secara simbolis bahwa Ramadhan telah dimulai. Kemeriahan suara beduk dan petasan tersebut merupakan acara puncak dari tradisi ini. Karena itulah, tradisi ini disebut dugderan.

Menurut Rianti, pasar rakyat yang diadakan dalam tradisi dugderan telah terselenggara sejak dua minggu sebelum Ramadhan di mulai. Ia juga menjelaskan, dalam pasar rakyat itu dijajakan berbagai macam barang dagangan.

Beragam dagangan itu, seperti pakaian, makanan, dan berbagai perlengkapan-perlengkapan lainya. Selain itu, berbagai macam arena hiburan juga bisa ditemukan saat pasar rakyat belangsung.

Hiburan seperti komedi putar, odong-odong, kolam bola, dan kereta mini merupakan berbagai macam arena yang turut memeriahkan pesta rakyat itu. ''Ini membuat pasar rakyat selalu berhasil menarik masyarakat sekitar Kota Semarang untuk turut meramaikan pasar rakyat tersebut,''  ujarnya.

Puncak acara dugderan, Rianti mengatakan, diawali dengan kegiatan berupa karnaval. Kemudian, diakhiri dengan bunyi suara beduk dan letusan petasan. Saat karnaval digelar, terdapat berbagai macam mobil hias. Selain itu, patung Warak Ngendok juga terdapat dalam karnaval itu dan merupakan tokoh utama dalam rangkaian tradisi dugderan.

Patung Warak Ngendok memiliki bentuk yang menyerupai naga. Ia menjelaskan, kata Warak merupakan sebutan untuk hewan imajiner yang menyerupai naga. Sedangkan, kata Ngendok merupakan kata dari bahasa Jawa yang berarti telur.

Rianti mengatakan, makna dari patung Warak Ngendok adalah mengenai gambaran sikap manusia yang penuh dosa seperti yang digambarkan patung naga. Sedangkan, telur yang juga terdapat dalam patung tersebut menggambarkan kondisi manusia yang kembali suci, seperti telur setalah manusia melakukan ibadah pada Ramadhan.

Pasar rakyat dalam tradisi dugderan diselenggarakan di Jalan pemuda selama dua minggu menjelang Ramadhan. Sedangkan, karnaval dilakukan mulai dari Kantor Balai Kota menuju ke Masjid Agung Jawa Tengah.

Setelah iring-iringan karnaval tiba di Masjid Agung acara dilanjutkan dengan acara pengumuman mengenai tibanya Ramadhan. Acara puncak dalam tradisi tersebut disambut dengan penuh sukacita oleh masyarakat dan diiringi oleh suara tabuhan beduk serta suara petasan dan meriam yang terbuat dari bambu.

Terpopuler