Mengintip Seluk Beluk Kehidupan Penjual Bedug

Rep: C82/ Red: Citra Listya Rini

Jumat 11 Jul 2014 07:57 WIB

Perajin bedug menghaluskan pemukul di Kebon Kacang, Jakarta Pusat, Jumat (4/7).(Republika/ Wihdan). Foto: Republika/ Wihdan Perajin bedug menghaluskan pemukul di Kebon Kacang, Jakarta Pusat, Jumat (4/7).(Republika/ Wihdan).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anda tentu akrab dengan suara bedug. Telinga Anda mendengar suara bedug terutama saat malam takbiran. Tapi, tahukah Anda seluk beluk kisah para penjual bedug?

Menurut salah stau penjual bedug di Jl KH. Mas Masyur, Tanah Abang, Jakarta, bernama Iwan (19 tahun) merupakan salah satu bentuk usahanya dalam menjaga tradisi. Usaha yang diturunkan dari ayahnya yang sudah meninggal tersebut telah ada sejak tahun 1993.

"Kalau di Tanah Abang, memang sudah tradisi dari dulu. Setiap Lebaran Haji, Idul Fitri, selalu berjualan. Dari ujung ke ujung. Kebanyakan yang jual orang Betawi," kata Iwan kepada Republika Online, Kamis (10/7).

Kawasan Tanah Abang memang selalu disemarakkan dengan para penjual bedug di bulan Ramadhan. Iwan merupakan salah satu pedagang musiman tersebut.

Bersama seorang temannya, Iwan menjual bedug yang terbuat dari kulit kambing, sapi dan kerbau. Harganya bervariasi. Untuk bedug dari kulit sapi atau kerbau dengan diameter paling besar yaitu 60 cm, dihargai Rp 1,2 juta. Sedangkan untuk bedug paling kecil dengan ukuran 30 cm, Iwan memberi harga sebesar Rp 250 ribu.

"Kalau kulit kambing lebih murah. Yang paling gede 500 ribu, paling kecil 200 ribu," kata Iwan. Pembeli bedug buatan Iwan dan temannya pun bukan hanya yang datang langsung ke lapaknya. "Ada juga yang memesan buat gedung-gedung, pajangan di hotel-hotel, ada," kata Iwan.

Iwan mengungkapkan tahun ini terjadi penurunan penjualan dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu, ia membuat 150 buah bedug besar dan 100 bedug kecil, tahun ini, hingga hari ini ia hanya membuat 70 bedug besar dan 50 bedug kecil.

Penjual bedug lain, Juminto (45), mengatakan para penjual bedug mulai ramai bermunculan sejak tahun 2005. Sama seperti Iwan, laki-laki yang biasa disapa Jum ini juga merupakan pedagang musiman.

"Tapi kalau saya mah tiap mau Idul Fitri aja. Idul Adha jual kambing," kata Jum sambil mengecat tong bedug. Ia mengaku telah mempersiapkan barang dagangannya sejak 15 hari sebelum puasa. Ia mulai menghiasi tong-tong bedug dan menjemur kulit.

Selain menjual bedug yang sudah jadi, laki-laki yang bekerja di salah satu ekspedisi pengiriman barang ini juga menjual kulit untuk bedug. Kulit-kulit itu dibelinya dari para penjual kulit. "Kan ada yang 'Bang, saya udah punya tongnya nih', ujarnya.

Tong bedug dan bambu "kaki bedug" pun diakui Jum dibeli dari salah satu langganannya di Manggarai. Selebihnya, ia membuat dan menghias bedug dagangannya sendiri. Mengenai harga, tidak ada perbedaan dengan bedug buatan Iwan. Jum juga menyediakan bedug dengan diameter 28 cm, 40 cm dan 58 cm.

Terpopuler