Berkah Pusaka di Tepian Ciliwung (2)

Rep: c85/ Red: Damanhuri Zuhri

Senin 07 Jul 2014 16:55 WIB

Pedagang kue kering sedang menata barang dagangannya. (ilustrasi) Foto: Antara/Septianda Perdana Pedagang kue kering sedang menata barang dagangannya. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,

Produsen kue-kue kering mendulang berkah menjelang Lebaran.

Meski karyawannya terbilang banyak, usaha kue Pusaka Kwitang hanya beroperasi ketika menjelang Ramadhan dan Lebaran saja.

“Kami mulai produksi dari bulan April. Pokoknya tiga bulan sebelum Lebaran kami sudah mulai bikin kue. Usaha saya dan istri saya sebelumnya disetop dulu,” kata Ujang menjelaskan.

Ujang dan Onih sehari-hari bekerja sebagai penjual nasi uduk di depan rumah mereka. Saat memulai membuat kue Lebaran, usaha nasi uduknya berhenti sementara.

Memang, katanya, banyak pembeli yang kecewa. Wanita asli Bogor ini mengaku lebih senang membuat kue daripada berdagang nasi uduk. “Dari segi untung sih iya. Tapi, modal belum ada,” ujarnya.

Terletak tepat di tepi Kali Ciliwung, lokasi usaha Ujang terhimpit di antara deret rumah sederhana di Kwitang. Rumah dengan ruang tamu berukuran 4 x 5 meter ini disulap bak pabrik kue profesional.

Di bagian ujung dapur diubah menjadi tempat khusus adonan kue. Di sinilah berkarung-karung tepung terigu dicampur bersama telur, gula, margarin, dan bahan lainnya.

Tepat di luar dapur, yang langsung bertemu ruang tamu, terletak sebuah meja kayu panjang dengan adonan kue yang telah memadat di atasnya.

“Dibagi-bagi sama besar, baru nanti dicetak jadi kecil-kecil dan ditaburi keju,” kata Muhammad Yusuf, seorang pekerja.

Ruangan mungil untuk sebuah pabrik kue tersebut diisi sedikitnya sepuluh orang. “Posisi bekerjanya urut Bang. Dari dalam untuk adonan, lalu dicetak, ditaburi keju atau kacang, nah di luar baru dipanggang. Urut dari dalam ke luar,” ujarnya.

Yusuf yang sehari-hari bekerja sebagai tukang urut, kini bertugas mengolesi kue yang telah dicetak dengan kuning telur dan margarin.

Terpopuler