Berkah Pusaka di Tepian Ciliwung (1)

Rep: c85/ Red: Damanhuri Zuhri

Senin 07 Jul 2014 16:49 WIB

Pedagang kue kering sedang menata barang dagangannya. (ilustrasi) Foto: Antara/Septianda Perdana Pedagang kue kering sedang menata barang dagangannya. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,

Produsen kue-kue kering mendulang berkah menjelang Lebaran.

Peluh di dahi Nawi (60 tahun) terus menetes. Tangan kanannya gesit menggeser loyang-loyang kue yang mulai menguning, sedangkan tangan kirinya statis menjaga tutup oven agar terbuka.

Sesekali dia menoleh ke belakang menanggapi obrolan kawannya. “Bentar lagi matang,” ujarnya singkat sambil merapikan sarung tangannya.

Nawi sendiri telah bekerja tujuh jam pada hari itu, dari pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB. “Tapi senang, alhamdulillah ada rezeki tambahan,” kata pria asal Karawang, Jawa Barat (Jabar), ini.

Di sudut lain, ada Juwarsih (37) yang kepalanya menunduk. Bergeming, seolah ia tak ingin diganggu. Wanita asli Sumedang itu ternyata sedang menaburi kue kastangel dengan keju parut.

“Jauh-jauh ke sini, bantuin usaha Pak Ujang. Nambah uang belanjalah,” kata dia. Dahinya sedikit mengernyit lantaran kedua matanya minus sembilan, terpasang kacamata tebal.

Juwarsih dan Pak Nawi merupakan dua dari 26 karyawan yang bekerja di perusahaan kue kering rumahan di bilangan Kwitang, Jakarta Pusat. Di sebuah rumah sederhana di Jalan Kembang 5 inilah berdiri pabrik kue Pusaka Kwitang, milik Hasanudin Ujang (56).

Bersama istrinya, Onih, Ujang merintis bisnis rumahan yang terbilang jarang ini. “Saya namakan Pusaka soalnya usaha ini warisan ayah saya,'' ujarnya menjelaskan.

Ia mengaku, meski lahir dan besar di Jakarta, tapi ia turunan Sunda. ''Kata orang Sunda kan, pusaka itu warisan turun-temurun. Seperti usaha ini, warisan ayah saya,” papar Ujang dengan tatapan sayu.

Terpopuler