Sulitnya, Cari Sekubal di Lampung

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Agung Sasongko

Kamis 03 Jul 2014 18:03 WIB

Takjil Foto: Republika/Wihdan Hidayat Takjil

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDAR LAMPUNG -- Setiap daerah memiliki menu khas berbuka. Begitu pula dengan Lampung.

Sayangnya, sulit mencari menu khas Lampung semisal Sekubal.  Setelah ROL menelusuri lapak per lapak dagangan berbuka di Pasar Enggal, Rabu (2/7) petang, akhirnya menemukan pedagang yang menjual Sekubal, salah satu makanan khas Lampung yang terkenal sudah berusia ratusan tahun. Sekubal berada di jejeran makanan ringan zaman sekarang.

Menurut Reni, pedagang makanan ringan, ia menyiapkan sekubal, karena masih ada yang mencari makanan khas Lampung ini, meski beberapa orang saja. "Kami menyetok sedikit sekubal, karena selalu ada yang cari," tutur ibu yang setiap tahun menggelar dagangan di Enggal.

Sekubal atau orang Lampung mengucapkannya Segubal, biasanya dinikmati secara turun temurun saat Lebaran. Makanan terbuat dari ketan dicampur santan kelapa lalu dibungkus daun pisang atau bisa juga daun kelapa, dan direbus dan dibakar, ini memiliki rasa yang berbeda gurihnya saat dicocol dengan sambal, rendang, serundeng, dan sayur pedos.

Sekubal mirip dengan lepet di Jawa, tapi berbeda bahan dan cara pembuatannya. Memasak sekubal bisa memakan waktu empat hingga delapan jam agar rasanya legit dan gurih. Selain harus memiliki keahlian khusus merendam ketan, menanaknya, dan mencetak dalam daun pisang serta memasaknya.

Reni mengatakan yang membuat sekubal ini masih orang-orang tua lama, kalau anak muda sudah tidak banyak yang hobi membuat Sekubal, karena rumitnya cara pembuatannya. "Ini juga yang buat nenek-nenek kami," ujarnya. Ia menjual Sekubal per potong Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.

Penganan khas Lampung ini sudah banyak ditinggalkan generasi muda. Setahun lalu, Dekranasda Kota Bandar Lampung, dalam memperingati hari ibu, menggelar makan sekubal terbanyak di Lapangan Merah, Enggal.

Saat itu, Dekranasda melibatkan sejumlah pengusaha makanan di Lampung untuk bergabung membuat sekubal sebanyak 15 ton ketan. Ketua Dekranasda Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, saat itu mengatakan pihaknya ingin melestarikan makanan khas dan kue tradisional di Lampung, seperti kue legit, seruit dan sekubal. 

Terpopuler