Problem Kalender Islam (3-habis)

Red: Chairul Akhmad

Rabu 25 Jun 2014 17:13 WIB

Pemantauan hilal awal Ramadhan. Foto: Republika/Agung Supri Pemantauan hilal awal Ramadhan.

Oleh: Susiknan Azhari*

Ibarat membangun rumah, para insinyur diperlukan untuk merumuskan dan menggambarkan bentuk rumah yang indah dan asri sedangkan tukang diperlukan untuk mewujudkan rumah yang telah dirumuskan oleh para insinyur.

Kerja sama keduanya sangat diperlukan agar dapat terwujud rumah yang indah dan asri sesuai gambar asal.

Begitu pula dalam penyatuan kalender Islam diperlukan pemikiran-pemikiran substantif-integratif. Antara pemikir dan praktisi harus berjalan bergandengan untuk mewujudkan konsep yang telah disepakati bersama.

Perlu disadari bersama jika pilihan kita adalah penyatuan kalender Islam maka dengan besar hati kita harus rela “berkorban” meninggalkan observasi sebagai metode untuk menentukan awal bulan Qamariah.

Hal ini sebagiamana hasil Ijtima' al-Khubara' al-Tsani Dirasat Wadh at-Taqwim al-Islamy di Rabat Maroko, 15-16 Syawal 1429 H/15-16 Oktober 2008.

Dalam pertemuan ini disepakati bahwa pemecahan problematika penyatuan kalender Islam di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat.

Artinya, jika kita tetap bertahan dengan observasi sebagai penentu masuknya tanggal 1, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, maka kita tidak akan memiliki kalender Islam yang mapan sampai kapan pun.

Selama ini, upaya penyatuan lebih diarahkan pada penyatuan metode untuk menentukan awal bulan Qamariah belum memasuki konsep kalender Islam secara komprehensif.

Kehadiran kalender Islam yang mapan merupakan sebuah kebutuhan untuk agenda dan aktivitas rutin ibadah maupun transaksi lainnya. Kaitannya dengan penyatuan kalender Islam peristiwa perjanjian Hudaibiyah dapat dijadikan inspirasi bagi para elite bangsa untuk memiliki sifat kenegarawanan.

Pemerintah dan ormas-ormas Islam harus senantiasa berusaha mencari titik temu dan siap berkorban. Wallahu a'lam bish shawab.

*Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terpopuler