Penjual Makanan Diimbau Tidak Vulgar di Bulan Ramadhan

Red: Chairul Akhmad

Senin 23 Jun 2014 16:51 WIB

Salah satu rumah makan (ilustrasi). Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang Salah satu rumah makan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu H Mukhlis Suddin mengimbau seluruh pengusaha kuliner di daerah itu agar tidak menjajakan dagangan secara vulgar saat Ramadhan untuk menghormati umat Islam yang berpuasa.

"Memang tidak ada larangan untuk berjualan karena umat lainnya yang tidak berpuasa juga butuh makanan, tetapi jangan vulgar berjualan di bulan puasa," kata dia, Senin (23/6).

Kemenag setempat, menurutnya, meminta pengusaha kuliner seperti restoran dan kafe untuk memberi tirai penutup tempat mereka berjualan.

"Jadi, orang yang berjalan di luar tidak bisa melihat kondisi di dalam rumah makan. Itu untuk menghormati saudara kita yang melaksanakan ibadah puasa. Namun, alangkah baiknya kalau mulai berjualan sore hari sebelum berbuka," kata Mukhlis.

Selain masalah usaha kuliner, Mukhlis juga menyoroti tempat hiburan malam serta warung remang-remang yang beroperasi di bulan puasa. Selama bulan Ramadhan, kata dia, warung remang-remang itu harus ditutup.

Dia meminta Sapol PP setempat untuk merazia tempat yang terindikasi digunakan sebagai lokasi maksiat karena kegiatan di lokasi tersebut mengganggu kaum Muslim yang sedang menunaikan ibadah di bulan Ramadhan.

"Tempat-tempat seperti itu terindikasi menjadi tempat maksiat dan minum-minuman keras. Dari pukul 05.00 setelah imsak hingga tarawih, 22.00 WIB, kita minta tempat hiburan malam tidak ada yang beroperasi," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Bengkulu Rusdi Syam mengungkapkan, ibadah puasa tahun ini kemungkinan Muhammadiyah dan NU akan berbeda jadwal awal Ramadhan. Namun, menurut dia, perbedaan tersebut jangan dijadikan sebagai masalah yang mengakibatkan pertikaian.

"Perbedaan rahmat, kita saling menghargai. Penentuan awal Ramadhan baik NU maupun Muhammadiyah sama-sama melalaui aturan syariah Islam. Jadi, yang mana saja yang diikuti masyarakat boleh," ujarnya.

Terpopuler