Geliat Pasar Tanah Abang Menyambut Ramadhan

Rep: c73/c91/ Red: Asep K Nur Zaman

Jumat 20 Jun 2014 08:00 WIB

Pedagang pasar Tanah Abang Jakarta Foto: Tahta/Republika Pedagang pasar Tanah Abang Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Para pedagang di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, menunjukkan geliat yang melebihi biasanya menjelang Bulan Suci Ramadhan ini. Mereka berharap terjadi lonjakan pendapatan, karena biasanya pada bulan puasa hingga menjelang lebaran, minat belanja masyarakat meningkat.

Malah, sekitar sembilan hari menjelang Bulan Suci, terlihat ada kenaikan transaksi. Iis, pedagang kerudung di Blok F, Tanah Abang, Jakarta, mengungkapkan hal tersebut. Menurut dia, seperti dilansir dari koran Republika edisi hari ini, menjelang Ramadhan jumlah pembeli meningkat. Meski demikian, keramaian pembelinya belum sebanyak tahun lalu.

Anisman, pedagang perlengkapan haji dan umrah di Blok F2 mengaku mulai ada lonjakan pembeli. “Sudah dua minggu ini terdapat kenaikan sekitar 20 persen dari hari biasa,” katanya, Kamis (19/6). Ia menyatakan, belum menyediakan tambahan stok untuk Ramadhan. Sebab, modal yang dimilikinya terbatas. 

Untuk pasokan barang dagangannya, Anisman memiliki konveksi dan pekerja di rumahnya sendiri. Sebagian barang ia ambil dari konveksi lain. Ada pula yang berasal dari kiriman pengrajin bordir Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Meski sudah mengalami lonjakan pembeli, Anisman tak menaikkan harga penjualan. Harga masih tetap seperti biasanya. Misalnya, baju toko harganya masih berada dalam kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 100 ribu. 

Sebaliknya, Gian, pemilik toko perlengkapan ibadah dan busana Muslim di Blok A, menyatakan, tahun ini menghadapi kondisinya yang berbeda. Biasanya, satu atau dua bulan sebelum Ramadhan pedagang dari daerah berdatangan. 

Mereka mendatangi tokonya untuk membeli barang-barang dagangannya. 

Biasanya, kata Gian, satu atau dua bulan sebelum Ramadhan pengunjung dari daerah sudah mulai berdatangan. Tapi, tidak untuk Ramadhan kali ini. Ia mengatakan, umumnya peningkatan jumlah pembeli terjadi dua pekan menjelang Lebaran. 

Untuk menghadapi hal itu, Gian sudah menyiapkan stok barang. Termasuk, untuk hari-hari biasa selama Ramadhan. “Setiap model pakaian Muslimah saya siapkan sebanyak 100 potong,” katanya menegaskan. 

Persediaan tersebut ia peroleh dari dari konveksi miliknya sendiri di Pondok Gede, Bekasi. Aminal, seorang pembeli dari Kebumen, Jawa Tengah, menyatakan, berbelanja di Tanah Abang untuk memenuhi persediaan tokonya.

Ia menyiapkan dana sekitar Rp 100 juta untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan. Ia berbelanja busana Muslim, kain, dan barang lainnya. Barang tersebut akan dikirim ke Kebumen dengan menggunakan jasa kereta api. 

Sementara itu, salah seorang pedagang makanan dan alat perlengkapan haji dan umrah, Agus menuturkan, pembeli mulai ramai sejak dua hari yang lalu. Selain itu, ia juga menyediakan kurma yang banyak dikonsumsi selama Ramadhan. 

Tahun ini, harga kurma telah mengalami kenaikan sebesar Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu. Ini disebabkan naiknya nilai mata uang riyal. Ia menyebutkan, harga kurma merek Palm Fruit kini Rp 45 ribu, sebelumnya Rp 35ribu.

Elsa, penjual kurma lainnya, menjelaskan, kenaikan harga sudah berlangsung sejak tiga minggu lalu. Ia menambahkan, harga kurma berbeda-beda bergantung jenisnya. Mendekati puasa, biasanya kurma Mesir yang paling banyak dicari. 

Harganya pun lebih terjangkau, hanya Rp 40 ribu per kg. Kurma paling mahal saat ini adalah kurma Nabi, harganya Rp 350 ribu per kg, padahal bulan lalu masih Rp 250 ribu. Tapi, ada juga yang menyatakan kurma Saudi lebih laris. 

Menurut Abuh, pedagang  kurma, harga akan terus mengalami kenaikan hingga Ramadhan. Bila sekarang Rp 75 ribu, saat bulan puasa bisa mencapai Rp 100 ribu. Menurut dia, pembeli akan lebih banyak berdatangan saat puasa. 

Ia beralasan, kurma termasuk kebutuhan yang dibeli selama Ramadhan. 

Terpopuler