Jajanan Ramadhan Kampung Jawa (2-habis)

Red: Chairul Akhmad

Senin 16 Jun 2014 16:58 WIB

Sate plecing. Foto: Foodspotting.com Sate plecing.

Oleh: Ahmad Baraas

Jukut bejek adalah masakan berbahan sayuran rebus yang dipotong kecil-kecil. Sayuran ini diberi parutan kelapa, sambal goreng terasi, lombok iris, dan bawang goreng untuk kemudian diaduk sambil diremas-remas (bejek).

“Saya paling suka sate plecing dengan sambal santan, dimakan dengan lontong dan jukut bejek,” kata Aini, warga Denpasar Barat yang saat itu berbelanja di Kampung Jawa.

Aini membeli sate plecing buatan Safira. Ia memilih sate berbahan daging dan susu sapi. “Kalau sate susu, digigitnya agak kenyal-kenyal, paling enak disantap ketika masih hangat,” katanya.

Saat Ramadhan tiba, makin banyak konsumen memburu sate buatan Safira. Safira mengakui, dari pengalaman sebelumnya, keuntungan yang didapat pada bulan suci ini bisa berlipat ganda.

Pada hari biasa, hanya sekitar dua kilogram atau kurang lebih 300-an tusuk bisa ia jual per hari. Namun, pada Ramadhan ia dapat menghabiskan empat kilogram atau sekitar 600 tusuk.

Untuk jukut bejek, hanya dua keranjang sayuran pada hari-hari biasa. Pada bulan suci, meningkat hingga dua kali lipat.

Waktu buka selama Ramadhan juga lebih pendek. Jika biasanya ia berjualan mulai pukul 14.00 hingga 17.30 WITA, saat puasa menjadi pukul 15.00 hingga 17.00 WITA. “Kalau dagangan sudah habis, ya warungnya ditutup,” kata Safira.

Jajanan di Kampung Jawa tak cuma sate plecing dan jukut bejek. Tersedia pula berbagai makanan ringan untuk berbuka puasa. Ada kurma, kolak, dan kue-kue yang berasa manis. Ada juga kue samosa, lumpia, lemper, risol, pastel yang rasanya sedikit asin.

Selain itu, penjual kue bernama Amal mengaku mendapatkan berkah selama Ramadhan. Omzet dagangannya bisa naik sampai dua hingga tiga kali lipat. 

Terpopuler