Oleh: Ahmad Baraas
Jajanan bukan hanya sate plecing dan jukut bejek, tapi juga makanan ringan.
Bagi umat Islam yang tinggal di Denpasar, Bali, Dusun Wanasari atau yang dikenal dengan nama Kampung Jawa pastilah tak asing. Di tempat ini, Islam masuk ke Pulau Dewata pada abad XVII, kemudian berkembang hingga sekarang.
Konon, istilah kampung Jawa muncul karena saat itu tempat ini didiami oleh para tentara asal Jawa saat berjuang melawan Belanda.
Mereka kemudian menikah, menetap di sana, dan memiliki keturunan. Sehingga, penduduk yang dulunya hanya menempati lokasi yang dekat dengan Masjid Baiturrahman di Jalan Ahmad Yani, kini menyebar ke arah timur.
Tak heran, saat Ramadhan tiba, para pedagang kuliner untuk berbuka puasa memilih berjualan di sekitar tempat ini. Selain berada di pusat kota dan mudah diakses, pedagang pun dekat dengan konsumen mereka.
Salah seorang yang berdagang di sini adalah Safira. Ia menjual sate plecing berbahan dasar daging, usus, dan juga susu sapi. “Di sini, kan sudah dikenal sejak lama,” kata Safira.
Sate plecing Safira menjadi makanan primadona di Kampung Jawa karena terkenal enak. Ia sudah memiliki pelanggan tetap.
Bumbu yang dioleskan pada daging, usus, ataupun susu sapi sate plecing Kampung Jawa—termasuk buatan Safira—mungkin sama dengan sate plecing di tempat lain. Begitu juga sambal pedas dari cabai keritingnya. Yang membedakan adalah bumbu santan kental yang dicampur tepung beras. Rasanya lebih gurih.
Sate plecing dijual Rp 2.000 per tusuk. Pembeli boleh memesan dua, lima, atau sepuluh tusuk. Biasanya, konsumen memadukan sate plecing dengan jukut bejek yang dijual Rp 3.000 per bungkus.