Transportasi Publik Selama Mudik Dinilai Buruk

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: A.Syalaby Ichsan

Selasa 06 Aug 2013 11:23 WIB

  Sejumlah pemudik memadati KM Dobonsolo yang akan diberangkatkan ke Semarang dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (3/8).   (Republika/Prayogi) Sejumlah pemudik memadati KM Dobonsolo yang akan diberangkatkan ke Semarang dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (3/8). (Republika/Prayogi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Layanan transportasi publik yang disediakan pemerintah tidak jauh lebih baik dibandingkan momen mudik tahun lalu.

Pengamat transportasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Daniel Rosyid mengatakan, penyediaan transportasi untuk masyarakat belum mengalami perbaikan.

Sebagai bukti, kata dia, terjadi penumpukan penumpang di stasiun, terminal, pelabuhan, maupun bandara setiap akhir bulan Ramadhan. Kalau transportasi massal sudah baik, tentu terjadi distribusi jumlah penumpang tidak hanya mendekati Lebaran.

Hal itu, kata dia, memunculkan kesan bahwa belum ada pembenahan secara mendasar sarana transportasi publik. Menurut dia, masyarakat pasti senang jauh-jauh hari pulang kampung apabila sarana transportasi sudah baik. 

Ia juga merujuk melonjaknya volume kendaraan pribadi di jalan raya yang sangat drastis hingga membuat kemacetan di sepanjang jalur mudik. “Kalau transportasi umum sudah baik, orang bisa pulang kampung tidak harus Lebaran. Bisa disebar, meski orang mudik jumlahnya tetap banyak,” kata Daniel, Selasa (6/8).

Kondisi itu menandakan daya angkut transportasi publik masih terbatas hingga membuat masyarakat memilih pulang kampung menggunakan kendaraan pribadi. Konsekuensinya, ujar dia, risiko terjadi kecelakaan di jalan raya juga bakal naik. 

enomena merebaknya perusahaan swasta menyelenggarakan mudik gratis dengan menggunakan bus juga menjadi tanda ketidaksiapan layanan transportasi massal. Karena daya angkut kereta api, bus, dan kapal laut sangat terbatas, masyarakat gembira bisa ikut program mudik gratis. 

Daniel menilai, kesadaran masyarakat sekarang meningkat dalam memilih menggunakan transportasi secara aman, yang sayangnya belum diikuti kesadaran penuh oleh pemerintah. “Karena cuaca juga jelek dan banyak jalan rusak, saya khawatir korban kecelakaan bisa meningkat,” kata Daniel.

Meski begitu, ia berharap arus mudik dan balik bisa lancar. Sehingga, kejadian tahun lalu yang menelan korban hampir 1.000 orang tewas di jalan bisa terhindarkan. “Inilah risiko kalau transportasi umum belum juga dibenahi secara serius,” katanya.

Terpopuler