Jalur Mudik Minim Penerangan

Rep: Rusdy Nurdiansyah, Bowo Pribadi, Arie Lukihardianti, Gilang Akbar Prambadi, Aldian Wahyu Ramadhan, Djoko Suceno / Red: M Irwan Ariefyanto

Rabu 31 Jul 2013 03:56 WIB

Lampu penerangan jalan umum Foto: Republika/Yogi Ardhi Lampu penerangan jalan umum

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Jalur pantai utara (pantura) dan selatan Jawa yang akan dilintasi para pemudik masih minim penerangan jalan umum. Lampu jalan di sepanjang jalur pantura dan selatan mengalami kerusakan.

Di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terdapat sekitar 200 titik penerangan jalan yang menggunakan energi matahari (solar cell). Namun, menurut Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Batang Achmad Taufik, sebanyak 108 titik di antaranya mengalami kerusakaan.

Menurut Achmad, pihaknya sudah menyampaikan kerusakan itu kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Karena berada di jalan negara, penerangan jalan umum menjadi tanggung jawab Kemenhub. “Hingga saat ini, yang sudah dapat diperbaiki baru mencapai 23 titik,” kata Achmad, Selasa (30/7).

Kondisi serupa juga terjadi di Subang, Jawa Barat. Tidak ada satu pun lampu penerangan jalan umum di jalur artenatif Cikamurang-Subang. Pada malam hari, jalur yang melintasi perkebunan kayu jati ini sangat gelap.

Kepala Bagian Operasional Polres Subang Komisaris Hendro Wicaksono mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan kepada pemerintah setempat agar memasang penerangan jalan di lokasi itu, tapi sampai saat ini belum juga dipasang.

Ketiadaan lampu membuat jalur alternatif ini rawan kejahatan, khususnya pada malam hari. Kepolisian pun harus melakukan pengamanan ketat di jalur itu pada malam hari. “Kami menempatkan cukup banyak personel di wilayah itu,” kata Hendro.

Hendro meminta para pemudik waspada ketika melintas di lokasi ini, khususnya pada malam hari. Untuk pemudik motor, sebaiknya menghindari jalur ini pada malam hari.

Direktur Keselamatan Transportasi Darat Kemenhub Hotma Simanjuntak mengakui penerangan jalan belum maksimal, khususnya di jalur pantura. Kondisi ini disebabkan lampu yang menggunakan energi matahari membutuhkan perawatan secara berkala.

Ketika perawatan minim dilakukan, kata Hotma, bagian dalam lampu berkerak dan tidak berfungsi maksimal. Akibatnya, penyerap matahari tidak berfungsi normal dan pijar lampu tak terlalu terang.

Aktivitas mudik diperkirakan mulai meningkat pada Kamis (1/8) dan mencapai puncaknya pada Sabtu (3/8) dan Ahad (4/8). Kemenhub memperkirakan jumlah pemudik tahun ini yang menggunakan angkutan umum mencapai 17 juta orang. Jumlah pemudik menggunakan angkutan jalan sebanyak enam juta, angkutan air empat juta, kereta api tiga juta, dan angkutan udara empat juta orang.

Jawa Barat akan menjadi konsentrasi perlintasan pemudik. Kepala Polda Jawa Barat Inspektur Jenderal Suhardi Alius mengatakan, jumlah kendaraan yang melalui wilayahnya diperkirakan mencapai tujuh juta unit. Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu, yaitu 6,2 juta kendaraan.

Untuk mengatasi kemacetan, ungkap Suhardi, pagar betis akan dilakukan di pasar tumpah. Setiap 200 meter di lokasi pasar tumpah, ada anggota kepolisian yang siap melakukan pagar betis di jalur mudik. “Kenaikan jumlah kendaraan pemudik tahun ini sangat signifikan. Makanya, kami buat pagar betis,” ujar Suhardi.

Selama bertahun-tahun, pasar tumpah telah menghambat arus mudik. Agar tidak terjadi gejolak, pagar betis akan melibatkan personel pemerintah setempat dan masyarakat. “Kami libatkan agar tidak memakan badan jalan," kata Suhardi.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, permasalahan pasar tumpah ini harus diselesaikan dalam waktu cepat. Dia meminta kepada pemerintah setempat untuk merelokasi para padagang pasar tumpah yang menghabiskan hampir setengah badan jalan. “Bukannya tidak boleh berjualan,” kata dia.

Selain penanganan pasar tumpah, Polda Jawa Barat juga melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk mengantisipasi kemacetan selama arus mudik, seperti rekayasa jalan. Kepolisian juga menutup sejumlah titik putar balik di jalur pantura Jawa Barat. “Untuk penutupan titik putaran tentu kami lihat kondisinya,'' kata Suhardi.

Untuk memberi kenyamanan kepada para pemudik pihaknya telah menyiapkan sejumlah rest area di setiap polsek dan beberapa titik lainnya. Penembak jitu (sniper) di daerah rawan sepanjang jalur mudik juga akan dikerahkan.

Sniper akan ditempatkan di perbukitan guna mengantisipasi bajing loncat. Ini untuk mengantisipasi pelemparan terhadap kendaraan pemudik. Untuk jumlah personelnya, Polda Jawa Barat menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Agus Rianto mengatakan, pengamanan diperketat dari Cikopo hingga Losari, Jawa Barat, untuk meminimalisasi kerawanan. Seluruh pasukan ini akan berjaga di sepanjang jalur itu sepekan sebelum hingga setelah Lebaran.

Terpopuler