Kota Sarajevo, Ramai pada Malam Hari

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Damanhuri Zuhri

Ahad 28 Jul 2013 22:16 WIB

Muslim Sarajevo Foto: muslimworld Muslim Sarajevo

REPUBLIKA.CO.ID,

Sebagian warga berkumpul sampai waktu sahur.

SARAJEVO — Suasana ibu kota Bosnia, Sarajevo, terasa sunyi pada waktu siang hari selama Ramadhan. Banyak warga yang memilih menghabiskan waktu berpuasanya di rumah, beribadah di masjid, atau aktivitas dalam ruangan lainnya.

Geliat kehidupan di Sarajevo perlahan berubah ketika matahari mulai meredup. Azan Maghrib dari menara-menara masjid dan tembakan meriam artileri dari ‘Žuta Tabija menandai waktu berbuka.

‘Žuta Tabija merupakan benteng pertahanan di Kota Sarajevo. Dalam beberapa tahun terakhir, ‘Žuta Tabija menjadi tontonan menarik menjelang berbuka, baik warga lokal maupun turis.

“Saya sering ke sini selama Ramadhan karena menarik melihat tembakan meriam yang menandakan waktu berbuka,” ujar seorang warga seperti dikutip Sarajevotimes, awal pekan ini.

Sebagian Muslim di Sarajevo ada yang berbuka di restoran sederhana ataupun memilih menikmati hidangan di rumah.

Muslim Bosnia berpuasa rata-rata 17 sampai 18 jam mengikuti lintasan siang negara-negara di Benua Eropa lainnya. Akan tetapi, cuaca di kawasan itu masih terbilang normal.

Selepas shalat Isya dan Tarawih, jalanan di ibu kota dipadati warga. Worldbulettin melansir, Saraclar dan

Ferhadiye adalah jalanan umum yang dipadati pengunjung pada malam hari.

Kafe-kafe kembali menyalakan lampunya. Melebarkan ruang teras dengan tenda-tenda. Pemiliknya tahu malam-malam Ramadhan bakal banyak pengunjung.

Tidak hanya Muslim. Warga non-Muslim pun ikut meramaikan jalanan. Mereka berbaur bersama Muslim menikmati malam-malam selama Ramadhan.

Tempat-tempat semacam ini kembali beroperasi setelah tutup pada siang hari. Kafe menjadi kegemaran warga. Biasanya mereka menikmati hidangan hingga larut.

Tidak sedikit di antara mereka yang betah di kafe-kafe menghabiskan waktu malam sekembalinya dari masjid.

Mereka menunggu sahur dengan berbagai macam obrolan. Dari mulai politik, agama, hingga harga-harga barang.

Obralan itu terasa lengkap dengan ditemani minuman paling khas dari negeri pecahan Serbia itu, kopi bosniak. Kopi ini sebenarnya adalah jenis kopi espresso biasa.

Tapi, disajikan dengan cara lain. Jika biasanya kopi diracik, lalu diseduh. Kopi ini dimasak sampai mendidih sebelum disajikan.

Kopi itu disajikan bersama gula batu. Pemilik kafe juga menyediakan narghile atau sisha. Meski mengeluarkan asap dari bahan semacam aroma terapi, pemanfaatan shisha masih terbilang kontroversial, apakah berbahaya ataukah tidak.

Bosnia Herzegovina adalah negara mayoritas Muslim di kawasan Teluk Balkan. Sensus kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB-UNDP 2002) mencatat sekitar 2,5 juta warga menganut agama Islam.

Jumlah itu adalah mayoritas dari 4,8 juta total populasi. Selebihnya adalah Kristen dan Ortodoks. Bosnia merupakan salah satu negara pecahan dari Yugoslavia.

Akademisi sejarah di Sarajevo, Elvedin Cigal, menilai, Ramadhan di Bosnia adalah bentuk kemajemukan masyarakat modern. Ramadhan menjadi simbol kerukunan.

“Pada Ramadhan, Muslim berkumpul, makan buka puasa, dan melakukan shalat Tarawih bersama-sama. Ramadhan menanamkan perasaan yang unik. Ramadhan mempercantik jiwa semua masyarakat di sini,” kata Cigal kepada Anandolu Agency, Selasa (23/7).

Jembatan Hubungan Turki

Ramadhan menjadi jembatan hubungan Turki dengan negara di kawasan Balkan ini.  Awal Ramadhan lalu, sebuah rombongan dari Kota Bayrampasa di Turki menggelar buka puasa bersama di Sarajevo.

Kegiatan buka puasa dilaksanakan di tepi Sungai Milyatska dan dihadiri oleh warga Bosnia dan juga Turki yang tinggal di Sarajevo.

Setelah menikmati hidangan berupa nasi, daging, dan makanan penutup, mereka mendengarkan Alquran serta membaca doa.

Dalam pidatonya, Wali Kota Bayrampasa Atila Aydiner mengatakan, konvoi terdiri atas 80 sukarelawan, empat truk, dan dua bus. Mereka akan tur ke negara-negara Balkan untuk meningkatkan hubungan kedua wilayah.

Pada Selasa (23/7), kantor perwakilan Turki di Bosnia Herzegovina juga menggelar buka puasa bersama yang dihadiri kalangan dengan latar belakang agama berbeda.

Kepala Perwakilan Turki Fatih Ilhan menekanan, Islam merupakan agama yang mendorong perdamaian dan toleransi. Buka puasa bersama ini, kata dia, merupakan contoh toleransi yang baik dan menunjukkan rasa solidaritas.

“Pertemuan ini menunjukkan Ramadhan adalah bulan yang penuh rasa perdamaian dan solidaritas,” ujar Zekerijah Osmic, menteri pertahanan Bosnia Herzegovina.

Terpopuler