Masjid Astra Perbanyak Kajian Agama

Rep: mg03/ Red: Damanhuri Zuhri

Jumat 19 Jul 2013 18:33 WIB

Masjid Astra di kawasan Sunter Jakarta Utara Foto: Astra Masjid Astra di kawasan Sunter Jakarta Utara

REPUBLIKA.CO.ID,

Tak hanya untuk karyawan, masjid ini juga melayani jamaah umum.

JAKARTA-- Banyak jenis masjid di Jakarta, mulai dari masjid perkampungan hingga masjid perkantoran. Meski demikian, fungsinya tetap sama, memberikan kesempatan bagi umat Islam beribadah sebebas-bebasnya.

Salah satu masjid perkantoran adalah Masjid Astra. Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah karyawan, masjid ini juga melayani jamaah umum.

Para pengurus mengklaim masjid ini sebagai salah satu yang terbesar di kawasan Jakarta Utara, selain Jakarta Islamic Center (JIC).

Rumah Allah yang terdiri atas dua lantai, berlapiskan batu granito, dan dipenuhi ukiran motif khas Islam ini mampu menampung ribuan orang.

Selama bulan Ramadhan, masjid yang terletak di kawasan industri Toyota Astra, Sunter, Jakarta Utara, itu menggelar berbagai acara. Di antaranya, kajian rutin tiap usai Zhuhur, kajian menjelang buka puasa, buka puasa bersama, Tarawih, dan kajian usai Tarawih.

Sepuluh hari menjelang Lebaran, Masjid Astra memberikan kesempatan i’tikaf dan mengadakan kuliah Subuh. Namun, Syaefurohman (38 tahun), pengurus masjid bidang ibadah dan dakwah, mengatakan, mulai tadi malam sudah ada yang beri’tikaf.

Meski lebih cepat dari jadwal, pengurus sepakat untuk memperbolehkan pria tersebut beri’tikaf, setelah memastikan identitasnya jelas.

Syaefurohman atau yang biasa dipanggil Syaeful menjelaskan, tiap tahun peserta i’tikaf bisa mencapai 350 orang. “Jamaah perempuannya juga banyak,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, Masjid Astra memang dikelola dengan tujuan menjadi tempat ibadah yang nyaman sehingga para jamaah merasa seolah sedang ada di rumah.

Fokus kegiatan Ramadhan Masjid Astra adalah kajian. Sepanjang Ramadhan, masjid yang diurus oleh Yayasan Amaliah Astra ini memiliki empat kajian utama.

Kajian pertama adalah kajian usai Zuhur dengan tema yang tak melulu tentang Ramadhan. “Kalau sama, nanti jamaah hafal. Bosan, dong,” ujar Syaeful.

Selanjutnya, ada pula kajian iftar (buka puasa), yaitu kajian kitab kiat-kiat hidup bahagia dan kitab tauhid. Kemudian, kajian kitab Hadis Arba’in Imam Nawawi seusai Tarawih dan kajian tabligh akbar tiap hari Ahad.

Berdasarkan keterangan Syaeful, banyaknya kajian ini didasarkan oleh keinginan pengurus untuk menjadikan masjid sebagai pusat ilmu.

Alasannya, saat ini masih terdapat banyak perbedaan paham mengenai Islam di masyarakat. Para pengurus ingin agar masjid menjadi tempat ilmu berasal sehingga dapat dimanfaatkan untuk menuntut ilmu, bukan untuk menciptakan perbedaan.

Tak lupa, masjid ini juga menyediakan buka bersama. Setiap hari pengurus masjid menyediakan takjil (air putih dan kurma) dan 500 porsi nasi bungkus. Syaeful mengakui, jumlah itu masih dirasa kurang. Pengurus kerap menerima keluhan dari jamaah yang tak kebagian.

Berbeda dengan buka puasa lainnya, di tempat ini mereka yang diprioritaskan untuk mendapat kupon berbuka adalah yang mengikuti kajian iftar. Jamaah yang berbuka di situ pun beragam, ada masyarakat umum, ada pegawai Astra.

Syaeful menuturkan, ketika waktu iftar tiba, jamaah yang telah mendapatkan kupon akan mengantre di depan stan Kafe Ramadhan yang ada di depan kantor pengurus masjid. “Semua ngantre di sini. Mau general manager, bos besar, yang bawa mobil jaguar, semuanya ngantre.”  n mg03

Terpopuler