Adaptasi Berolahraga Kala Puasa

Rep: Rosita Budi Suryaningsih/ Red: A.Syalaby Ichsan

Selasa 16 Jul 2013 12:46 WIB

Salah satu agenda Arsenal Fair bertajuk 'Mini Tournament Futsal' di halaman Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Sabtu (13/7) sore. Foto: Ilyas Asad Hifzhuddin Salah satu agenda Arsenal Fair bertajuk 'Mini Tournament Futsal' di halaman Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Sabtu (13/7) sore.

REPUBLIKA.CO.ID, Saat berpuasa Ramadhan, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama sekitar 14 jam.

Bagi Muslim yang terbiasa melakukan olahraga, terutama bagi seorang atlet yang biasa beraktivitas fisik dengan mengeluarkan energi yang tinggi, membutuhkan sebuah pola baru kala berolahraga saat puasa.

Dokter yang mendampingi tim futsal Indonesia, Muhammad Ikhwan Zein, menjelaskan, kala berpuasa, semuanya berubah.

Bukan hanya pola makan karena jadwal makan yang berubah, menurutnya, semua gaya hidup para atlet akan berubah dan menyesuaikan diri dengan tubuhnya yang sedang menjalankan puasa. “Pola makan, latihan, dan recovery berubah,” ujar Ikhwan, Ahad (14/7).

Menurut Ikhwan, tidak mungkin jika pola makan berubah namun pola lainnya tidak berubah. Ketiga pola tersebut harus selalu berkesinambungan dan disesuaikan dengan kondisi tubuh sang atlet.

Kala puasa, ia tidak merekomendasikan untuk melakukan latihan, dalam hal ini berolahraga sesuai dengan bidangnya, ketika pagi hari. “Karena, untuk menuju pengisian cairannya masih lama,” katanya. 

Menurutnya, paling bagus adalah melakukan latihan sekitar dua jam sebelum berbuka puasa atau lebih baik lagi adalah ketika malam hari, sekitar dua jam setelah berbuka.

Bentuk latihannya pun berubah. Biasanya dalam pekan pertama Ramadhan, intensitas latihan diturunkan hingga 50 persen. “Saat ini, tubuh perlu adaptasi dengan pola makan yang berubah, jangan sampai terjadi shock,” ujar Ikhwan.

Ketika pekan kedua, karena tubuh mulai menyesuaikan diri, porsi latihan dinaikkan sedikit demi sedikit hingga mencapai 75 persen dari porsi latihan di hari biasa. Pada pekan terakhir Ramadhan, porsi latihan akan kembali menjadi 100 persen, sama dengan hari biasa di luar Ramadhan.

Penurunan dan peningkatan porsi latihan ini, menurut Ikhwan, harus dilakukan karena tubuh olahragawan memerlukan adaptasi. Jika tidak mengindahkan pola baru itu, ia menyatakan bisa saja sang atlet mengalami cedera karena kemampuan tubuhnya tidak menyesuaikan.

Ia juga menyarankan agar ketika melakukan latihan, jangan sampai lebih dari pukul 22.00 atau 23.00. Karena, jika melebihi waktu tersebut, waktu istirahat menjadi tidak maksimal apalagi beberapa jam kemudian harus bangun untuk sahur.

Terpopuler