Puasa Bagi Penderita Diabetes

Rep: Rosita Budi Suryaningsih/ Red: A.Syalaby Ichsan

Kamis 11 Jul 2013 04:17 WIB

Seorang pasien penderita diabetes tengah menyuntikkan obat insulin. Foto: AP/Reed Saxon Seorang pasien penderita diabetes tengah menyuntikkan obat insulin.

REPUBLIKA.CO.ID, Divonis menderita diabetes melitus atau yang dikenal dengan sakit gula tak menyurutkan semangat Rabiyah (39 tahun) untuk menjalankan puasa setiap tahunnya.

Meskipun tahu jika orang sakit diperbolehkan tidak wajib menjalankan puasa, ia merasa sayang jika di bulan yang penuh rahmat ini ia tak menjalankan puasa wajib."Tetap kuat kok", ujar Rabiyah kepada  Republika, akhir pekan lalu.

Rabiyah menimbang kondisi tubuhnya dulu, apakah memang kuat atau merasa lemas ketika berpuasa. Tak lupa, sebelum Ramadhan datang, ia telah melakukan konsultasi kepada dokternya. "Tahun-tahun sebelumnya alhamdulillah kuat, walau tidak penuh," ujar Rabiah menceritakan pengalamannya.

Ia mengikuti anjuran dokter untuk rajin memeriksa kadar gula dalam darahnya. Kebetulan, ia mempunyai alat yang bisa mengecek kadar gula di rumahnya.

Ketika terasa lemas, ia akan dengan segera mengecek kadar gula. Jika memang rendah ia tak mau mengambil risiko yang lebih besar. Lebih baik, membatalkan puasa saat itu juga. 

Ahli metabolik-endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia EM Yunir mengatakan, menjalani puasa bagi penderita penyakit metabolik kronis, seperti diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi.

Penderita diabetes memerlukan terapi agar makanan yang dicerna bisa diubah menjadi nutrisi yang tepat bagi tubuh, baik melalui obat-obatan dan pengaturan makan yang tepat. Jika salah satu terapi ini terganggu, bisa membuat kadar gula dalam darah menjadi tidak normal dan berakibat pada organ lainnya, misalnya hati, saraf, ginjal, dan organ vital tubuh lainnya.

Ketika berpuasa, yang berarti tubuh tak mendapatkan asupan makanan selama lebih dari 12 jam, tubuh akan mengambil sumber energi yang diambil dari cadangan glikogen di hati.

Selain itu, mekanisme tubuh yang menjaga kadar gula darah tetap normal menjadi tidak berfungsi karena tidak ada asupan makanan yang masuk dan produksi insulin pun menjadi terganggu. "Pada penderita diabetes yang berat dan cadangan energinya kurang bisa mengalami pemecahan glikogen dan lemak dalam darah," ujar Yunir. 

Jika sel-sel dalam darah banyak yang rusak karena terjadi pemecahan ini, aliran darah, jantung, penyaring darah, bahkan seluruh sistem dalam tubuh bisa terganggu. Begitu besar risiko yang akan dihadapi jika penderita diabetes tetap menjalankan puasa.

Tapi, karena pengaruh religius dan budaya yang kuat, ia selalu menghadapi pasien yang tetap ngeyel untuk berpuasa.  Untuk itu, ada hal-hal yang perlu diperhatikan bagi penderita diabetes saat puasa karena terjadi perubahan pola makan, baik dari jadwal, jumlah, maupun jenisnya.

Paling bagus adalah mendekatkan sahur pada imsak dan mengonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat kompleks. Karena karbohidrat kompleks membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diubah menjadi glukosa, sehingga bisa menyediakan energi lebih lama. Perbanyak pula sayur, buah, dan kacang-kacangan.

Sebaliknya, kala berbuka memperbanyak karbohidrat sederhana, seperti kentang dan hindari makanan terlalu banyak lemak dan kacang-kacangan. Minuman manis bergula juga dihindari. "Lebih baik minum air putih hangat ketika berbuka. Perlu diperhatikan porsinya, 40 persen saat berbuka, 10 persen atau makan kecil setelah tarawih, dan 50 persen kala sahur," Yunir mengingatkan.

Terpopuler