Dulu Benci, Kini Jatuh Cinta dengan Puasa

Rep: Bambang Noroyono/ Red: A.Syalaby Ichsan

Selasa 09 Jul 2013 23:09 WIB

Puasa Ramadhan/ilustrasi Foto: timeanddate.com Puasa Ramadhan/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Namanya Marcos. Dia berasal dari Manila, Filipina. Lelaki ini tinggal di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), selama lebih dari sembilan tahun.

Marcos awalnya merupakan seorang non-Muslim. Baginya, dahulu puasa adalah bentuk pengorbanan bodoh. Menurut Marcos, menahan diri dari semua kebutuhan jasmani merupakan suatu mimpi buruk. 

"Bulan Ramadhan adalah kiamat kecil bagi saya. Ketika semua tempat hiburan ditutup," kata dia kepada Arab News, beberapa waktu lalu. Menurut dia, puasa bertentangan dengan naluri dan hak-hak mahluk hidup. Puasa perbuatan tidak logis dan menyiksa. 

Pertanyaan mengapa seorang Muslim harus berpuasa terus memunculkan pertanyaan di otaknya setiap hari. Mengapa ada agama besar yang melarang manusia menikmati  ciptaan Tuhan? Mengapa harus menyiksa diri menahan lapar dan haus, padahal dua kebutuhan itu sangat penting?

Namun, perlahan hidayah mulai menghampiri Marcos. Seorang teman sekamar menjawab semua gelembung pertanyaan di otaknya itu. Semua prasangka negatifnya tentang puasa ternyata tidak benar. Apalagi, setelah dia membuktikan sendiri. 

Allah memberikan saya Islam. Saya menemukan tentang pernyataan-pernyatan saya (dahulu) yang ternyata tidak benar, kata dia. 

Marcos memilih bersyahadat dan mengubah namanya menjadi Ahmed Moamen. Tahun ini adalah Ramadhan yang kesekian kalinya dia hadapi usai menjadi mualaf.

"Pengalamannya berpuasa memberi keyakinan, rukun Islam ketiga itu adalah cara hidup yang sehat. Tubuh-tubuh ini juga punya hak untuk beristirahat. Setidaknya, setahun sekali. Ini adalah kebijaksanaan yang agung," ujarnya seperti dikutip Onislam.

Pengalaman yang mirip juga dialami mualaf lainnya, Amnah Jordon (Jordon Caroline) dari Afrika Selatan. Bagi dia, Ramadhan adalah momen paling intim antara manusia dengan Sang Maha. Kegiatan baik apa pun terganjar dengan kebaikan yang dinilai berlipat ganda.

Ini kegiatan keagamaan yang mudah dan paling saya nanti. Hati saya merasa dekat bersama-Nya, ujar dia. Pengalaman Jordon menjadi pengalaman-pengalaman pribadi dalam mendalami agama yang diimaninya beberapa tahun lalu.

Terpopuler