Makanan Tak Layak Konsumsi Dirazia

Rep: Eko Widyanto/ Red: A.Syalaby Ichsan

Kamis 04 Jul 2013 15:52 WIB

 Razia makanan.  (ilustrasi) Foto: Republika/Aditya Pradana Putra Razia makanan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Masyarakat Cilacap harus berhati-hati membeli bahan makanan di pasar-pasar tradisional.

Tim terpadu dari pemerintah setempat yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar tradisional, Kamis (4/7), menemukan sejumlah bahan makanan yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi.

Tim dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap ini menemukan bahan makanan yang tidak konsumsi tersebut, seperti tahu dan kerupuk yang menggunakan bahan pewarna pakaian.

"Juga mie basah yang mengandung boraks, dan juga hati daging sapi yang mengandung cacing,' jelas Kepala Dinperindagkop Cilacap Dian Arinda Murni, saat memimpin sidak di Pasar Sidadadi, Cilacap, Kamis (4/7).

Dia menyebutkan, pewarna pakaian dan boraks, sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Hal ini karena sifat kedua bahan kimia tersebut, yang bersifat karsinogenik atau memicu munculnya penyakit kanker.

''Bila bahan kimia tersebut terus menerus terserap tubuh manusia, dampaknya bisa menimbulkan kanker. Kalau pun bukan kanker yang muncul, tapi ginjal yang berfungsi menyaring darah dari bahan beracun, bia mengalami kerusakan,'' jelasnya.

Sementara mengenai hati sapi yang mengandung cacing, sebenarnya tidak terlalu berbahaya dikonsumsi bila makanan itu dimasak hingga matang. Namun hati yang mengandung cacing  tersebut, sudah tidak lagi mengandung nilai gizi yang bermanfaat bagi manusia. ''Jadi, ibaratnya percuma saja membeli hati sapi seperti itu,' katanya. 

Menghadapi temuan-temuan tersebut, dia tidak bisa mengambil tindakan tegas dengan melakukan tindakan hukum terhadap para pedagangnya. ''Kami hanya bisa mengingatkan, agar pedagangnya tidak lagi menjual makanan seperti itu,'' jelasnya. 

Dia mengaku, instansi terkait sebenarnya sudah berulangkali mengingatkan para pedagang agar tidak menjual bahan makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Namun seringkali, justru pihak konsumennya yang mencari-cari makanan seperti itu. 

Selain memantau kandungan bahan kimia yang ada dalam bahan makanan, Dian menyatakan, tim juga melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga-harga sejumlah kebutuhan masyarakat. Dari hasil pemantauan, dia mengakui sejumlah bahan kebutuhan masyarakat memang mengalami kenaikan harga cukup tinggi. 

''Bahan kebutuhan yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi ini, antara lain terjadi pada jenis bumbu-bumbuan seperti cabai, bawang merah dan putih, daging ayam potong dan telur,'' jelasnya.

Untuk cabai rawit merah, saat ini mengalami kenaikan mencapai Rp 80 ribu per kg. Padahal harga normalnya, tak lebih dari Rp 25 ribu per kg. Demikian juga bawang merah, saat ini bertengger pada tingkat harga Rp 40 ribu per kg. Padahal normalnya, sekitar 16 ribu per kg. Sedangkan bawang putih, mengalami kenaikan dari harga normal Rp 24 ribu per kg, menjadi Rp 30 ribu per kg.

Untuk daging ayam potong yang biasanya dijual seharga Rp 26 ribu per kg, kini dijual pedagang pasar dengan harga Rp 30 ribu per kg. Demikian juga dengan telur ayam lehor yang biasanya dijual dengan harga Rp 16 ribu per kg, kini dijual pedagang dengan harga Rp 20 rbu per kg.   

Dia menyebutkan, kenaikan harga sejumlah ini kemungkinan merupakan fenomena sesaat karena saat ini menjelang Bulan Ramadhan. ''Setelah memasuki Bulan Puasa, saya kira harga kebutuhan tersebut akan mengalami penurunan. Namun saya belum bisa memperkirakan, apakah harga ini akan kembaki ke harga normal seperti sebelum kenaikan harga BBM atau tidak,'' jelasnya. 

Terpopuler