REPUBLIKA.CO.ID, Berpuasa pada Ramadhan bukanlah alasan untuk mengerem aktivitas kerja sehari-hari. Produktivitas kerja harus tetap dipertahankan atau bahkan ditingkatkan selama menjalankan ibadah puasa pada bulan yang suci itu.
Meski tubuh tak mendapatkan pasokan makanan atau minuman pada siang hari, itu tidak menjadi masalah. Demi kebugaran tubuh yang bisa berimbas pada produktivitas pada siang hari, asupan gizi dan menjaga pola makan menjadi sangat penting.
Pakar Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Ahmad Sulaeman mengatakan, selama berpuasa seseorang bisa tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Saat puasa, energi yang diperlukan atau dikeluarkan umumnya satu per tiga lebih sedikit dibandingkan hari-hari biasa.
Agar puasa lancar dan tetap produktif, ia mengingatkan agar tetap memperhatikan gizi pada saat berbuka dan sahur. Tips sehat dan produktif selama menjalani ibadah puasa pun tidaklah sulit. Umat Islam cukup meniru sunah Rasul agar tampil bugar dan sehat.
“Caranya, menyegerakan berbuka dan memperlambat sahur,” ujar Ahmad. Makan sahur penting agar tubuh memiliki energi ketika berpuasa pada siang hari. Menu yang disiapkan hendaknya mencukupi kebutuhan kalori sehari-hari.
Makanan mengandung karbohidrat kompleks disarankan menjadi menunya supaya tidak mudah dicerna. Makanan jenis ini, seperti ubi-ubian dan kentang. Hal ini penting untuk menunda rasa lapar dan agar energi yang dihasilkan bisa awet berada di dalam tubuh.
Madu dan kurma juga baik dikonsumsi setiap buka dan sahur. Adapun banyak minum air, makan sayur dan buah diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuh. Bagi penderita sakit mag, menu makannya tidak jauh berbeda. Yang penting, tidak mengonsumsi makanan yang terlalu asam.
Buah pepaya dan semangka bisa menjadi alternatif agar puasa tetap bugar bagi para penderita mag. “Bagi penderita penyakit mag justru disarankan untuk berpuasa, supaya metabolismenya lebih sehat,” kata Ahmad.
Yang tidak kalah penting adalah kecukupan protein dan lemak. Seseorang yang berpuasa perlu mempersiapkan asupan makanan yang mengandung komposisi gizi beragam dan seimbang sesuai kebutuhan, termasuk vitamin, dan mineral. Tubuh manusia memiliki mekanisme sendiri yang mampu mengatur kebutuhan kalori.
Jika tidak sahur, energi akan diambil dari cadangan gula darah, glikogen, dan lemak. Jika lemak sudah dibakar, akan menghasilkan betaoksida, asam, dan keton yang nantinya bisa berpengaruh terhadap bau mulut. Artinya, sahur yang cukup juga bisa mengurangi potensi bau mulut saat puasa.