Berkah Ramadhan Bagi Si Pembuat Bedug

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Heri Ruslan

Ahad 30 Jun 2013 22:41 WIB

Salah seorang perajin bedug tengah memelitur bedug yang buat (ilustrasi). Foto: Antara Salah seorang perajin bedug tengah memelitur bedug yang buat (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjelang bulan Ramadhan, kesibukan Diding (52 tahun) meningkat. Sebab, ia yang sehari-hari bekerja merawat dan menjual kambing, juga mulai disibukkan dengan pekerjaan musimannya, membuat bedug. 

Saat disambangi Republika di bengkelnya, Diding terlihat sedang sibuk dengan sejumlah peralatan lasnya. Rupanya dia sedang membuat lingkaran besi yang akan digunakan untuk mengikat kulit kambing di tong bekas oli. Di tempat itu pula terlihat berlembar-lembar kulit kambing yang sedang dijemur dan beberapa tong bekas. 

Ya, bedug memang menjadi barang yang banyak dicari menjelang bulan puasa. Selain difungsikan sebagai penanda masuknya waktu berbuka puasa di masjid, alat musik tabuh itu juga banyak dicari sebagai hiasan di sejumlah pusat perbelanjaan dan perkantoran untuk meramaikan suasana Ramadhan. 

Meski belum menerima pesanan, Diding mengaku sudah mulai membuat bedug sekitar satu bulan sebelum datangnya bulan suci bagi umat Islam tersebut. Sebab, kata dia, seminggu jelang puasa, biasanya sudah banyak pelanggan yang membeli bedug buatannya.

"Ini untuk nyetok/p saja," ujar Ayah dari tiga anak ini. Tahun lalu, kata Diding, Kebun Binatang Ragunan bahkan memborong 30 bedug untuk dijadikan properti hiburan bagi pengunjung.  

Menurut pria asal Cengkareng ini, dalam sehari, ia bisa membuat hingga tiga bedug. Proses membuat bedug sendiri dimulai dengan menjemur kulit kambing yang telah dibersihkan.  Diding mengatakan, setidaknya butuh waktu dua hari dengan sinar matahari yang terik untuk membuat kulit kambing benar-benar kering. Selanjutnya, kata dia, kulit kambing yang telah kering akan dicuci kembali agar sedikit lentur. Setelah itu, barulah kulit kambing dipasang di tong besi.  

Untuk bahan baku kulit kambing, Diding bisa mendapatkan dari pelanggan yang membeli kambing ternaknya. "Kadang kalau ada yang beli kambing buat dipotong, kulit kambingnya buat saya," kata pria berkulit sawo matang ini. 

Namun, ada juga kulit kambing yang dia beli dari rumah pemotongan hewan dengan harga Rp 50 ribu. Sementara, untuk tong bekas oli, dia harus membeli seharga Rp 100 ribu.  

Dalam satu bulan, lanjut Diding, dia bisa menjual sekitar 200 bedug dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung ukurannya. Dengan demikian, dari satu bedug yang terjual, dia bisa meraup untung hingga 50 persen. "Ya lumayan lah," katanya. 

Tempat berjualan Diding sendiri sebenarnya merupakan sebuah lahan kosong di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, tepatnya di depan pusat perbelanjaan Thamrin City. Di tempat itu pula, terdapat kambing-kambing yang dia pelihara untuk dijual. 

Jika hari biasa, Diding hanya bekerja merawat dan menjual kambing saja. Namun pada bulan Ramadhan, ia mendapat berkah tersendiri. Sebab,   hanya pada bulan itu saja ia bisa meraup lebih banyak pundi-pundi rupiah dari hasil membuat dan menjual bedug. 

 

Terpopuler