Soal Lebaran, Mualaf Tengger Ikut Kata Pemerintah

Red: Djibril Muhammad

Selasa 30 Aug 2011 15:05 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, LUMAJANG - Mualaf Tengger di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriah sesuai dengan ketetapan pemerintah yakni 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu (31/8).

"Umat muslim suku Tengger akan menjalankan ibadah shalat Ied besok Rabu (31/8) di sejumlah masjid yang tersebar di desa setempat," kata tokoh agama suku Tengger, Subakri, saat dihubungi ANTARA, Selasa (30/8).

Pemerintah melalui Menteri Agama Suryadharma Ali memutuskan 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada Rabu (31/8), berdasarkan laporan dari pengamatan hilal di sejumlah daerah dan masukan dari sejumlah ormas Islam yang menghadiri sidang isbat, Senin (29/8) malam.

Penetapan tersebut tertuang dalam keputusan Menteri Agama Nomor 148 tahun 2011 tertanggal 29 Agustus 2011 tentang Penetapan 1 Syawal 1432 H. Setiap tahun, kata dia, mualaf Tengger selalu menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat tentang penetapan 1 Syawal.

"Kami selalu mematuhi instruksi pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan dan 1 Syawal," katanya.

Menurut Subakri, mualaf Tengger akan melakukan takbiran di sejumlah musala dan masjid desa setempat nanti malam, agar suasana malam Hari Raya Idul Fitri semakin semarak. "Saya akan mengajak warga Tengger untuk takbiran di masjid," ucap Subakri yang menjadi seorang modin di Kantor Urusan Agama (KUA) Senduro.

Jumlah tempat ibadah mualaf Tengger di Desa Argosari sebanyak dua masjid dan sembilan musala yang tersebar di empat dusun di desa setempat. Tradisi warga muslim Tengger di Desa Argosari saat Lebaran, kata dia, hampir sama dengan umat muslim lainnya yakni bersilaturahmi dengan sanak saudara dan memberi uang kepada anak-anak kecil.

"Biasanya seluruh tetangga berkumpul dan merayakan Lebaran bersama-sama untuk makan besar (kenduren) secara bergantian di tiap rumah, kemudian membagi uang kepada anak-anak mualaf Tengger," paparnya.

Ia menjelaskan mualaf Tengger hidup rukun berdampingan dengan warga Tengger nonmuslim, bahkan toleransi beragama di Kecamatan Senduro cukup baik. "Warga Tengger hidup berdampingan dan rukun, meski mereka berbeda keyakinan karena toleransi beragama sangat dijunjung tinggi," katanya.

Jumlah mualaf Tengger yang tercatat di KUA Senduro sebanyak 260 orang yang tersebar di Desa Argosari, Wono Cempoko Ayu, Kandang Tepus dan Ranupane.

Terpopuler