Saturday, 8 Rajab 1434 / 18 May 2013
find us on : 
  Login |  Register

Puasa dan Suka Cita Idul Fitri (3-habis)

Friday, 17 August 2012, 17:30 WIB
Komentar : 0
AP/Eranga Jayawardena
Anak Muslim Sri Lanka bermain ketika orang tua mereka sholat Idul Fitri di Kolombo, Sri Lanka.
Anak Muslim Sri Lanka bermain ketika orang tua mereka sholat Idul Fitri di Kolombo, Sri Lanka.

REPUBLIKA.CO.ID,  Ekspresi syukur menyambut Idul Fitri hendaknya tidak dinodai dengan perilaku kekufuran. Termasuk kategori perilaku kufur ialah merayakannya dengan pesta minuman keras, menyelenggarakan dan menghadiri pertunjukan maksiat, memakai sutra dan emas bagi kaum laki-laki, menyimpan rasa dendam dan dengki terhadap sesama, khususnya kepada kedua orang tua, dan sebagainya.

Sikap seperti itu bila dilakukan bersamaan dengan menyambut hari raya berbuka jangan-jangan diklasifikasikan sebagai perilaku menukar nikmat Allah SWT dengan kekufuran sebagaimana firman-Nya,
"Orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan ke-kufuran. ” (QS. Ibrahim: 28).

Bagian lain dari ekspresi syukur Idul Fitri ialah tidak terjadi stagnasi (kemandegan ataufutur) amal setelah Ramadhan. Bulan Ramadhan sebenarnya memiliki mata rantai dengan bulan Syawwal. Hal ini dibuktikan antara lain dengan anjuran menyusuli puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal.

Syawwal termasuk bulan haji disamping Dzulqa'dah dan Dzulhijjah. I'tikaf Rasulullah SAW di bulan Ramadhan yang dilanjutkan hingga tanggai 10 Syawwal, dan Syawwal adalah bulan peningkatan amal sebagaimana arti Syawwal menurut bahasanya.

Dari sini keterputusan amal bersamaan dengan berlalunya Ramadhan sebisanya dihindari. Ibadah kerasnya bukan hanya di bulan Ramadhan saja, melainkan di sebelas bulan lainnya juga. Sebaik-baik amal adalah amal yang sambung-menyambung (estafet), susul-menyusul, atau istiqamah, tidak berhenti di tengah jalan begitu menganggap selesai, hingga datang suatu keyakinan (mati).

Firman Allah SWT, ”Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka lanjutkanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) lain.” (QS. Alam Nasyrah: 7).

Rasulullah SAW juga bersabda, ”Sebaik-baik amal bagi Allah adalah yang begitu selesai (sampai di tujuan) segera berangkat lagi.” (HR. Tirmidzi).

Ramadhan telah memberikan semangat dan energi bagi manusia untuk memanaskan fisik dan mentalnya agar tahan dan tidak mengalami futur 'kekendoran' yang melampaui batas (keterlaluan) dalam menjalani ibadah pada sebelas bulan berikutnya.

Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Hafidz Muftisany
1.347 reads
Siapa saja yang telah kami angkat untuk mengerjakan suatu pekerjaan/jabatan kemudian kami telah memberikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya yang sah adalah ghulul (korupsi)((HR. Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Alhamdulillah, Muslim Samba Terus Bertambah
RIO DE JENEIRO—Apakah ada komunitas Muslim di Brasil. Pertanyaan itu wajar terucap. Ini karena, negeri itu berpenduduk mayoritas Katolik. Tapi jangan salah, di negeri...