Ahad 19 Mar 2023 17:45 WIB

Ziarah Kubur dan Tradisi Nyadran Menjelang Ramadhan di Yogyakarta

Saban tahun, masyarakat berziarah ke kubur leluhur mereka menjelang Ramadhan.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Agus raharjo
Warga berziarah di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Ahad (19/3/2023). (Ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga berziarah di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Ahad (19/3/2023). (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Harum taburan bunga melati hingga mawar memenuhi tempat pemakaman umum yang berada di belakang Masjid Kuncen, Kelurahan Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, DIY. Taburan bunga dengan berbagai warna yang masih segar itu, turut menghiasi bagian atas beberapa kuburan.

Mulai dari kuburan yang ditambah dengan semen, hingga kuburan yang hanya dibuat menggunakan tanah, dipenuhi dengan hiasan bunga melati, mawar berwarna merah dan putih. Sejumlah warga terlihat duduk di samping makam sambil menengadahkan tangan yang menghadap ke langit.

Baca Juga

Mereka berdoa di samping makam untuk keluarga, orang tua, maupun sanak saudara yang sudah meninggal. Dengan harapan, doa mereka diijabah Tuhan, dan orang terkasih yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Mereka berziarah ke makam atau biasa disebut dengan tradisi nyadran di budaya Jawa. Tradisi ini banyak dilakukan menjelang Ramadhan ataupun setelah Lebaran Idul Fitri, yang mana menjelang Ramadhan 2023 ini banyak masyarakat mulai berdatangan ke pemakaman untuk mengunjungi makam orang terkasih.

Afianti (45 tahun) turut melakukan tradisi nyadran dengan mengunjungi makam kedua orang tuanya. Ia membawa satu keranjang bunga kecil yang sudah diisi dengan berbagai macam bunga. Mulai dari mawar merah, mawar putih, bunga melati, hingga kenanga.

Kelopak bunga tersebut sudah dipisahkan dari tangkainya, dan ditabur di atas makam ayah dan ibunya. Kedua orang tua Afianti sudah meninggal dunia, dan dimakamkan di lokasi yang sama.

Ibu Afianti sudah meninggal lama, sedangkan ayahnya meninggal dunia sekitar empat tahun lalu. Di depan kedua makam orang tuanya, Afianti berdoa agar keduanya mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Afianti mengaku rutin mengunjungi makam kedua orang tuanya tersebut, dan sudah menjadi tradisi di keluarganya. Kadang, ia datang bersama anak dan saudaranya, meski saat ini ia hanya datang bersama anak semata wayangnya.

Tradisi nyadran tersebut dilakukan Afianti sebelum datangnya Bulan Ramadhan, atau setelah Lebaran Idul Fitri. Untuk tahun ini, ia melakukan tradisi nyadran menjelang Ramadhan. "Tiap tahun selalu mengunjungi makam bapak dan ibu, sambil membersihkan rumput-rumput dan mendoakan almarhum dan almarhumah bahagia di alam sana," kata Afianti kepada Republika.co.id, Sabtu (18/3/2023).

Tempat pemakaman umum di belakang Masjid Kuncen terbagi atas beberapa pemakaman. Mulai dari Kompleks Makam HOS Cokroaminoto, TPU Pracimalaya, dan TPU Pracimalaya-Kuncen.

Pemakaman tersebut dijaga oleh 22 juru kunci makam. Salah satu juru kunci makam, Nursyamsi (61) mengatakan, satu pekan menjelang Ramadhan, pemakaman tersebut sudah banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk melakukan tradisi nyadran. Mereka tidak hanya datang dari DIY saja, namun juga dari provinsi lain di Indonesia.

Sebab, pemakaman tersebut juga terbuka untuk seluruh masyarakat di luar DIY. "Kalau di hari biasa (di luar akhir pekan) bisa lima sampai 10 keluarga yang ziarah, kalau di Sabtu-Ahad lebih banyak lagi," kata Nur kepada Republika.co.id.

Nur menuturkan, pemakaman tersebut memiliki luas kurang lebih 13 hektare. Setidaknya, ada lebih dari 1.500 makam yang ada di tempat pemakaman umum tersebut, yang mana bagian (blok) Nur untuk menjaga makam berdekatan dengan masjid, yang disebutnya sebagai kawasan Makam Pakuncen Lama.  

Di blok yang menjadi lokasi makan yang menjadi tanggung jawabnya, ada makam baru yang sudah diberi semen, dan juga ada makam lama yang batu nisannya berbentuk seperti makam lama khas Yogyakarta. Nur membersihkan makam-makam tersebut dengan menyiram dan mengelap makan, serta membersihkan makan dari rerumputan liar.

"Disiram pakai gembor (alat yang biasa digunakan untuk penyiram tanaman), saya lap dan saya bersihkan begini," kata Nur sambil membersihkan bagian atas makam dengan mengelap menggunakan handuk kecil yang biasa ia gunakan.

Nur menuturkan, tradisi nyadran ini biasanya lebih banyak lagi saat setelah Lebaran Idul Fitri. "Bisa seperti pasar kalau habis Lebaran, H+1 sampai H+3," lanjutnya.

Nur sendiri sudah menjadi juru kunci makam sejak 2007 lalu. Meski begitu, ia tidak diberi upah tetap selama menjaga makam-makam yang menjadi tanggung jawabnya. Ia kadang hanya diberi uang secara sukarela oleh keluarga pemilik makam. Kadang, uang yang ia dapatkan hanya cukup untuk membeli rokoknya.

Meski begitu, ia tetap bersyukur dan tetap menjaga makam yang berada di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. "Kadang ada yang ninggalin buat beli rokok, Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu, saya terima. Seikhlasnya saja diberikan (upah), tidak wajib harus berapa gitu sebulan, tapi saya tetap bersyukur," ujar Nur.

Meski begitu, tidak semua juru kunci yang diberikan upah dengan sukarela. Ada juru kunci yang mendapatkan upah tetap per bulan, seperti juru kunci yang membersihkan makam Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto, atau yang biasa dikenal sebagai HOS Cokroaminoto.

"Khusus untuk makam pahlawan seperti Cokroaminoto ada (digaji tetap per bulan) Rp 600 ribu," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement